Volatilitas Global Tinggi: Penyebab & Dampaknya Terhadap Anda

Volatilitas Global Tinggi: Penyebab & Dampaknya Terhadap Anda
Sumber: Liputan6.com

Negosiasi perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan China masih menjadi sorotan utama dunia. Ketidakpastian yang meliputi kesepakatan perdagangan kedua negara raksasa ini menimbulkan kekhawatiran, terutama di AS. Kurangnya pembaruan berarti tentang pembicaraan perdagangan semakin menambah kecemasan para pelaku ekonomi global.

Presiden AS Donald Trump, meskipun kerap menekankan kemampuannya dalam membuat kesepakatan, tidak mampu menghilangkan sepenuhnya ketidakpastian ini. Perbedaan gaya negosiasi antara pemimpin kedua negara menjadi salah satu faktor utama yang menghambat kesepakatan.

Bacaan Lainnya

Ketidakpastian Kesepakatan Perdagangan AS-China

Salah satu pertanyaan besar yang mengemuka adalah apakah kesepakatan perdagangan akan tercapai dalam jeda tarif 90 hari. Berdasarkan pengalaman masa jabatan pertama Trump, kemungkinan kesepakatan dalam jangka waktu singkat tersebut sangat kecil.

Ashmore Asset Management Indonesia dalam risetnya menyebutkan bahwa dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mencapai kesepakatan perdagangan. Tindakan Trump yang semakin agresif terhadap China, semakin meningkatkan ketegangan antara kedua negara.

Beberapa tindakan Trump yang dimaksud antara lain pengumuman pencabutan izin mahasiswa China dan ancaman pembatasan chip Artificial Intelligence (AI) untuk Huawei. Hal ini memicu kemarahan China dan mengurangi optimisme akan penyelesaian cepat.

Dampak Negatif terhadap Kepercayaan Investor Global

Ketegangan AS-China memicu kemarahan di China dan mengurangi optimisme akan penyelesaian cepat sengketa perdagangan. Ketidakpastian ini semakin meningkatkan risiko bagi perekonomian global.

Data terbaru menunjukkan sektor manufaktur dan jasa AS mengalami kontraksi pada Mei. Hal ini memperkuat ekspektasi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) tahun ini.

Kondisi ini membuat investor global secara bertahap kehilangan kepercayaan terhadap aset AS. Meskipun AS selama dekade terakhir mengalami arus masuk investasi yang kuat, hal ini dinilai tidak berkelanjutan karena kesehatan fiskal yang rapuh.

Dilema yang sama dihadapi The Fed. Suku bunga riil perlu diturunkan, tetapi inflasi dan tingkat pengangguran perlu dipertimbangkan agar penurunan suku bunga berkelanjutan. Kondisi ini semakin mempersulit langkah The Fed.

Volatilitas Global dan Potensi Investasi di Pasar Negara Berkembang

Pemerintah AS berupaya mengurangi defisit fiskal, namun usulan pemotongan pajak baru oleh Trump melalui RUU “Beautiful Bill” justru meningkatkan kekhawatiran. Upaya efisiensi biaya juga belum membuahkan hasil yang signifikan.

Penurunan peringkat utang AS oleh lembaga pemeringkat semakin memperkuat kekhawatiran akan kesehatan fiskal AS. Defisit diperkirakan mencapai USD 1,9 triliun pada 2025.

Meskipun volatilitas global diprediksi tetap tinggi, Ashmore tetap menyarankan investasi dan diversifikasi di pasar negara berkembang. Pasar AS saat ini diperdagangkan dengan premi yang signifikan.

Saham Indonesia diperdagangkan dengan valuasi murah secara historis dan imbal hasil obligasi terus menurun. Imbal hasil obligasi Indonesia bertenor 10 tahun berada di 6,77%. Kedua kelas aset ini dinilai memiliki potensi reli yang berkelanjutan dalam jangka menengah-panjang.

Secara keseluruhan, situasi perdagangan AS-China masih jauh dari pasti. Ketidakpastian ini berdampak luas, tidak hanya pada kedua negara tersebut, tetapi juga pada perekonomian global dan kepercayaan investor. Sementara itu, negara-negara berkembang seperti Indonesia, dengan valuasi aset yang menarik, memiliki peluang untuk menarik investasi di tengah ketidakstabilan global ini.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *