Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati di Majalengka kembali menjadi sorotan. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, baru-baru ini mengkritik kinerja bandara yang dinilai belum optimal. Pembangunan bandara yang dimulai pada 2015 dan rampung pada 2017, menelan biaya hingga Rp 2,6 triliun dari APBN dan APBD Jawa Barat. Kini, operasional BIJB Kertajati menjadi tanggung jawab PT BIJB, sebuah Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Pemprov Jawa Barat.
Kondisi BIJB Kertajati saat ini menimbulkan polemik. Kurangnya aktivitas penerbangan membuat bandara tersebut merugi hingga Rp 60 miliar setiap tahunnya.
Bandara Kertajati: “Peuteuy Selong” yang Merugi
Dedi Mulyadi secara blak-blakan menyebut Bandara Kertajati sebagai “peuteuy selong,” analogi dalam bahasa Sunda untuk sesuatu yang besar namun kosong.
Ia menyoroti minimnya aktivitas penerbangan yang mengakibatkan kerugian besar bagi pemerintah daerah.
Selama tiga bulan menjabat Gubernur, Dedi mengaku belum mampu menemukan solusi cepat untuk mengatasi permasalahan ini.
Beban operasional Rp 60 miliar per tahun menjadi tantangan yang perlu segera diatasi.
Strategi Pemerintah Pusat untuk Mengembangkan Kertajati
Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, menyatakan komitmen pemerintah pusat untuk mengoptimalkan Bandara Kertajati.
Ia meyakini bandara ini memiliki potensi besar yang perlu dikembangkan.
Kemenhub telah merumuskan empat strategi utama pengembangan.
Optimalisasi Lahan dan Integrasi Moda Transportasi
Strategi pertama berfokus pada optimalisasi lahan seluas 1.800 hektar.
Integrasi fasilitas strategis seperti gedung terminal, area komersial, pusat e-commerce, dan pusat perawatan pesawat (KAMC) akan diprioritaskan.
Pengembangan Area Komersial
Strategi kedua meliputi pengembangan area komersial seluas 21,9 hektar.
Fasilitas pendukung seperti hotel, pusat MICE, mal, dan area parkir akan dibangun untuk meningkatkan aktivitas di sekitar bandara.
Pusat Logistik E-commerce
Strategi ketiga adalah membangun pusat logistik e-commerce seluas 68,4 hektar.
Pusat logistik ini ditargetkan memiliki kapasitas 500.000 ton per tahun dan akan didukung dengan berbagai insentif.
Pengembangan Kertajati Aircraft Maintenance Center (KAMC)
Strategi keempat melibatkan pembangunan KAMC di lahan seluas 84,2 hektar.
Fasilitas MRO (Maintenance, Repair, and Overhaul) ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan Indonesia pada layanan MRO luar negeri.
Upaya Peningkatan Pergerakan Penumpang dan Penerbangan
Selain empat strategi utama tersebut, upaya lain dilakukan untuk meningkatkan jumlah penumpang dan penerbangan.
Rebranding bandara, promosi, kerjasama dengan penyedia wisata dan hotel, serta insentif bagi maskapai penerbangan akan dilakukan.
Kemenhub juga akan mengundang maskapai untuk membuka rute penerbangan reguler dari dan menuju Bandara Kertajati.
Pembangunan bengkel pesawat di Bandara Kertajati direncanakan rampung pada akhir 2025. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan daya tarik bandara dan mengoptimalkan potensi yang ada.
Nasib Bandara Kertajati masih menjadi tantangan besar. Keberhasilan strategi pemerintah pusat dan daerah dalam mengoptimalkan potensi bandara ini akan menentukan masa depannya. Perlu sinergi dan komitmen yang kuat dari berbagai pihak untuk mengatasi kerugian dan mewujudkan Kertajati sebagai bandara yang ramai dan bermanfaat bagi perekonomian Jawa Barat.





