Perang tarif yang dipicu oleh pemerintahan Donald Trump berdampak luas pada perdagangan global. Salah satu dampaknya adalah upaya perusahaan-perusahaan China untuk mengakali kebijakan tarif tinggi yang diterapkan AS. Mereka memanfaatkan celah dengan menggunakan negara-negara lain sebagai perantara ekspor, salah satunya India.
Tarif resiprokal yang mencapai 145% membuat eksportir China kesulitan mengirimkan barang ke AS. Strategi ini, yang terungkap baru-baru ini, menunjukkan betapa gigihnya perusahaan China untuk tetap bisa mengakses pasar Amerika.
Strategi Perusahaan China Mengakali Tarif Trump Lewat India
Pemerintahan Trump menerapkan tarif impor yang lebih rendah ke India dibandingkan China. Hal ini menjadi celah yang dimanfaatkan perusahaan-perusahaan China.
Saat ini, tarif impor dari India ke AS hanya 10%, meskipun angka ini berpotensi naik menjadi 26% pada bulan Juni jika negosiasi antara kedua negara gagal.
Perbedaan tarif yang signifikan antara India dan China inilah yang menjadi daya tarik bagi perusahaan-perusahaan China untuk memanfaatkan eksportir India.
Peran Eksportir India dalam Perdagangan AS-China
Direktur Jenderal Federasi Organisasi Ekspor India, Ajay Sahai, mengungkap fakta mengejutkan dari Canton Fair, pameran dagang terbesar di dunia.
Banyak perusahaan India didekati oleh perusahaan-perusahaan China untuk mengirimkan produk mereka ke AS dengan imbalan komisi.
Dengan skema ini, barang-barang China dapat masuk ke pasar AS dengan tarif yang jauh lebih rendah daripada jika dikirimkan langsung.
Tantangan dan Hambatan bagi Strategi Ini
Meskipun India menjadi pilihan menarik, terdapat beberapa tantangan yang dihadapi perusahaan-perusahaan China.
Pemerintah India menerapkan pembatasan terhadap investasi China, yang menyulitkan perusahaan China untuk mendirikan pabrik di India atau menggunakan India sebagai jalur transit barang ke AS.
Terungkap pula bahwa perusahaan-perusahaan India tidak hanya menjadi ‘kurir’, tetapi juga terlibat dalam kerjasama penamaan merek dengan perusahaan-perusahaan China.
Alternatif Negara Lain dan Kegagalan Strategi Sebelumnya
Sebelum memanfaatkan eksportir India, perusahaan-perusahaan China juga mencoba strategi lain.
Mereka pernah mencoba memalsukan label produksi dengan mencantumkan “made in Korea” untuk menghindari tarif tinggi dari AS.
Negara-negara Asia Tenggara, khususnya Vietnam, awalnya menjadi pilihan, namun tarif timbal balik sebesar 46% yang diterapkan Trump membuat strategi ini kurang efektif.
Perluasan strategi ke negara-negara lain terus dilakukan, namun terbukti hal tersebut tidak selalu mudah dan efektif.
Upaya perusahaan China untuk mengakali kebijakan tarif Trump ini menunjukkan betapa kompleks dan dinamisnya perang dagang. Ini juga mencerminkan kreativitas perusahaan dalam mencari jalan untuk tetap bersaing di pasar global, bahkan di tengah tantangan kebijakan proteksionis.
Meskipun strategi ini berhasil dalam jangka pendek, belum tentu keberlanjutannya terjamin. Perubahan kebijakan dan pengawasan yang lebih ketat dapat membongkar praktik ini dan menimbulkan konsekuensi hukum.
Ke depan, strategi perdagangan yang lebih transparan dan adil akan menjadi kunci keberhasilan bagi semua pihak yang terlibat.





