Paylater: Tren Membayar Belanja, Baby Boomers Rentan Jebakan Utang

Paylater: Tren Membayar Belanja, Baby Boomers Rentan Jebakan Utang
Sumber: Kompas.com

Di tengah tantangan ekonomi yang masih melanda Indonesia, tren penggunaan layanan Buy Now Pay Later (BNPL) atau paylater justru menunjukkan peningkatan signifikan. Data terbaru dari PT Pefindo Biro Kredit (IdScore) mencatat lonjakan penggunaan paylater sebesar 23,8 persen secara tahunan hingga April 2025. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan: mengapa paylater semakin diminati di tengah melemahnya daya beli masyarakat?

Pertumbuhan pesat layanan paylater mencerminkan kebutuhan masyarakat akan akses pembiayaan yang cepat dan mudah. Hal ini semakin terasa di tengah ketidakpastian ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.

Bacaan Lainnya

Lonjakan Penggunaan Paylater dan Dampaknya terhadap Ekonomi Rumah Tangga

Direktur Utama IdScore, Tan Glant Saputrahadi, menjelaskan bahwa penurunan daya beli dan ketidakpastian ekonomi mendorong masyarakat untuk mencari solusi pembiayaan yang mudah diakses. Paylater menjadi pilihan yang paling praktis di tengah kondisi tersebut.

Meskipun pertumbuhan paylater menjanjikan bagi sektor finansial, tren ini juga menyimpan risiko. Peningkatan penggunaan layanan ini tidak selalu diiringi dengan kemampuan pembayaran yang memadai dari seluruh pengguna.

Generasi Baby Boomers: Kelompok Paling Rentan Terjebak Utang Paylater

IdScore mengidentifikasi generasi baby boomers sebagai kelompok dengan potensi risiko tinggi. Mereka dinilai belum sepenuhnya beradaptasi dengan teknologi keuangan digital, sehingga rentan terhadap permasalahan pembayaran paylater.

Rasio pembiayaan bermasalah (NPF) dari kelompok baby boomers meningkat cukup signifikan. Pada April 2025, NPF mencapai 5,36 persen atau sekitar 19,19 miliar rupiah, naik dari 3,9 persen (14,82 miliar rupiah) pada Maret 2025.

Kurangnya keakraban dengan teknologi digital menjadi faktor utama penyebabnya. Banyak baby boomers belum terbiasa menggunakan aplikasi pemantau utang, pengingat jatuh tempo, dan notifikasi pembayaran otomatis.

Kesenjangan adopsi teknologi ini menciptakan gap antara generasi baby boomers dengan pengguna paylater yang lebih muda dan lebih melek digital.

Tekanan Makroekonomi dan Tren Konsumsi Rumah Tangga

Dari sisi makroekonomi, tekanan terhadap konsumsi rumah tangga turut memperkuat tren penggunaan paylater. Pertumbuhan ekonomi nasional memang mencapai 4,87 persen secara tahunan. Namun, pertumbuhan ekonomi secara kuartalan justru mengalami kontraksi 0,98 persen pada April 2025.

Inflasi tahunan yang rendah (1,95 persen) dan deflasi bulanan menunjukkan melemahnya daya beli masyarakat. Kondisi ini memaksa masyarakat untuk mencari alternatif pembiayaan jangka pendek, seperti paylater, guna memenuhi kebutuhan konsumsi.

Kesimpulannya, peningkatan penggunaan paylater merupakan cerminan dari tantangan ekonomi yang dihadapi masyarakat Indonesia. Meskipun memberikan solusi pembiayaan yang praktis, peningkatan ini juga mengungkap risiko yang perlu diwaspadai, terutama bagi kelompok yang kurang familiar dengan teknologi digital seperti generasi baby boomers. Perlu adanya edukasi dan literasi keuangan yang lebih intensif untuk meminimalisir risiko tersebut dan memastikan penggunaan paylater yang bertanggung jawab.

Ke depan, perlu kerjasama antara pemerintah, lembaga keuangan, dan penyedia layanan paylater untuk meningkatkan literasi keuangan digital, khususnya bagi generasi baby boomers. Hal ini penting untuk mencegah peningkatan angka NPF dan melindungi masyarakat dari jebakan utang.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *