Menu Makan Bergizi Gratis (MBG) selama Ramadhan menuai kontroversi setelah Badan Gizi Nasional mengubah menu berbuka puasa. Menu sebelumnya yang terdiri dari nasi dan lauk pauk digantikan dengan makanan dan minuman ringan seperti biskuit dan minuman sereal kemasan. Perubahan ini dinilai kontraproduktif terhadap tujuan program.
Kritik tajam dilontarkan berbagai pihak, termasuk Diah S. Saminarsih dari CISDI. Ia menyoroti tingginya kandungan gula dalam makanan ultra-proses yang disajikan. Kombinasi biskuit kering dan sereal instan dalam MBG, misalnya, bisa menyumbang hingga 18 gram gula, atau 72 persen kebutuhan gula harian anak usia 2-18 tahun menurut standar WHO. Konsumsi gula berlebih dalam jangka panjang dapat memicu obesitas dan masalah kesehatan lainnya.
Ancaman kesehatan jangka panjang akibat konsumsi makanan ultra-proses menjadi perhatian utama. Berbagai penelitian menunjukkan hubungan antara paparan dini terhadap makanan ultra-proses dengan peningkatan risiko obesitas, penyakit jantung, dan penyakit kronis lainnya. Hal ini tentu bertentangan dengan program pemerintah yang bertujuan mencegah penyakit kronis melalui skrining kesehatan.
Profesor Madya Kesehatan Masyarakat, Grace Wangge PhD, menambahkan bahwa memberikan makanan ultra-proses kepada anak-anak justru berpotensi meningkatkan angka penyakit kronis di masa depan. Ini dinilai sebagai langkah yang tidak sejalan dengan upaya pemerintah menekan risiko penyakit jantung dan diabetes.
Ahmad Arif dari Nusantara Food Biodiversity juga menyoroti kontradiksi antara kebijakan MBG dengan Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2024 yang mengamanatkan percepatan diversifikasi pangan berbasis sumber daya lokal. Penggunaan produk ultra-proses dalam MBG dinilai bertentangan dengan upaya peningkatan ketahanan dan kemandirian pangan.
Dokter dan ahli gizi masyarakat, Tan Shot Yen, menambahkan bahwa keputusan ini kontraproduktif dengan upaya intervensi gizi yang telah dilakukan selama satu dekade terakhir melalui program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Lokal dan Pedoman Gizi Seimbang. Ia juga memperingatkan risiko disrupsi pemahaman institusi dan penurunan komitmen pemerintah daerah dalam inovasi intervensi berbasis pangan lokal.
Berbagai pihak mendesak Badan Gizi Nasional untuk segera memperbaiki standar menu MBG. Prioritas harus diberikan pada pangan segar lokal. Selain itu, perlu dikeluarkan regulasi yang membatasi produk ultra-proses dan makanan tinggi gula, garam, dan lemak dalam program MBG untuk mencegah dampak negatif jangka panjang terhadap kesehatan masyarakat.
Permasalahan Utama Menu MBG Ramadhan
Perubahan menu MBG Ramadhan menjadi sorotan karena penggunaan makanan ultra-proses yang tinggi gula, garam, dan lemak. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan dampak negatif terhadap kesehatan penerima manfaat, terutama anak-anak dan remaja. Tingginya kandungan gula dalam menu MBG, misalnya, berpotensi menyebabkan obesitas dan penyakit kronis lainnya di masa mendatang.
Solusi dan Rekomendasi
Untuk mengatasi permasalahan ini, beberapa solusi dan rekomendasi penting dapat dipertimbangkan. Pemerintah perlu segera merevisi menu MBG dengan memprioritaskan pangan segar dan lokal. Regulasi yang lebih ketat terkait penggunaan makanan ultra-proses dalam program pemerintah juga diperlukan. Peningkatan edukasi gizi kepada masyarakat, terutama terkait bahaya konsumsi gula berlebih, juga sangat penting.
Selain itu, perlu adanya kolaborasi yang lebih kuat antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat sipil dalam merumuskan kebijakan gizi yang efektif dan berkelanjutan. Hal ini untuk memastikan bahwa program MBG benar-benar memberikan manfaat gizi optimal bagi masyarakat dan selaras dengan upaya peningkatan kesehatan masyarakat secara menyeluruh.
Penting juga untuk memperhatikan aspek keberlanjutan dan kearifan lokal dalam penyediaan menu MBG. Memanfaatkan potensi sumber daya pangan lokal tidak hanya meningkatkan kesehatan masyarakat, tetapi juga mendukung perekonomian lokal dan ketahanan pangan nasional.





