Program Pemeriksaan Kesehatan Gratis Pemerintah: Antusiasme Rendah, Tantangan Besar
Program pemeriksaan kesehatan gratis (CKG) yang diluncurkan Presiden Prabowo Subianto melalui Kementerian Kesehatan pada 10 Februari 2025, menargetkan 50 juta warga Indonesia. Namun, hingga 12 Mei 2025, baru sekitar 5,3 juta orang yang memanfaatkannya. Rendahnya partisipasi ini menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas program dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Provinsi Jawa Tengah mencatat partisipasi tertinggi dengan 1,9 juta peserta, diikuti Jawa Timur dengan sekitar 1 juta peserta. Sebaliknya, Jawa Barat, provinsi dengan populasi terbesar (50,7 juta jiwa), hanya mencatat 369 ribu peserta. Bahkan di kota besar seperti Jakarta, angka partisipasi masih sangat rendah, yaitu sekitar 33 ribu orang.
Pemeriksaan Tak Sesuai Ekspektasi: Kekecewaan Peserta
Beberapa peserta CKG mengungkapkan kekecewaan mereka terhadap layanan yang diterima. Hana (28), ibu rumah tangga di Makassar, misalnya, berharap mendapatkan pemeriksaan lengkap sesuai informasi di media sosial Kemenkes. Namun, ia hanya menjalani pemeriksaan tensi dan gula darah, layanan yang menurutnya mudah didapatkan di apotek secara gratis.
Kesulitan mengakses aplikasi Satu Sehat juga menjadi kendala bagi Hana. Pengalamannya menunjukkan bahwa harapan tinggi terhadap program CKG tidak selalu sejalan dengan realita di lapangan. Meskipun demikian, ia memuji keramahan dokter yang bertugas.
Kurang Tertarik dan Kurang Informasi: Hambatan Partisipasi
Archie (29), pekerja swasta di Tangerang Selatan, mengaku kurang tertarik dengan program CKG. Ia mengaku kurang memahami alur dan layanan pemeriksaan, dan lebih memilih pemeriksaan kesehatan berbayar karena dianggap lebih komprehensif.
Kompleksitas prosedur, seperti pengisian formulir dan pengunduhan aplikasi, juga menjadi faktor penghambat. Kurangnya informasi dan promosi yang efektif berkontribusi terhadap rendahnya minat masyarakat terhadap program ini, terutama di kalangan pekerja swasta. Hal ini bertolak belakang dengan pernyataan Menkes Budi Gunadi Sadikin yang menyatakan antusiasme masyarakat cukup baik.
CKG dan Tantangan Komunikasi Risiko Kesehatan
Epidemiolog Dicky Budiman menjelaskan beberapa faktor penyebab rendahnya partisipasi CKG. Kurangnya literasi kesehatan dan kesadaran akan pentingnya deteksi dini menjadi salah satu faktor utama. Tinggi rendahnya akses informasi tidak selalu berbanding lurus dengan literasi kesehatan masyarakat.
Selain itu, komunikasi publik pemerintah dinilai kurang efektif. Dicky juga menyinggung adanya “health anxiety” atau kecemasan kesehatan, di mana sebagian masyarakat enggan memeriksakan diri karena takut mengetahui hasil pemeriksaan yang buruk. Komunikasi risiko yang baik sangat penting untuk mengatasi masalah ini.
Skeptisisme terhadap Layanan Gratis dan Solusi Ke Depan
Persepsi negatif terhadap layanan publik gratis juga turut berperan. Sebagian masyarakat, terutama di kota besar, cenderung skeptis terhadap kualitas dan keamanan data pribadi dalam program massal dan gratis. Mereka mungkin lebih memilih layanan kesehatan swasta meskipun berbayar.
Untuk meningkatkan partisipasi CKG, Dicky Budiman menyarankan pemerintah untuk memperbaiki pola komunikasi risiko dengan pendekatan berbasis komunitas. Pemanfaatan tokoh masyarakat, kader kesehatan, dan relawan, serta integrasi dengan program pelayanan primer dan mobile clinic, dapat menjangkau warga secara lebih efektif. Program vaksinasi dan pemeriksaan ibu hamil bisa diintegrasikan dengan CKG.
Program CKG memiliki tujuan mulia, yaitu meningkatkan kesehatan masyarakat dan mengurangi beban penyakit yang dapat dicegah. Suksesnya program ini bergantung pada penyempurnaan strategi komunikasi, peningkatan aksesibilitas, dan penyediaan layanan yang sesuai dengan harapan masyarakat. Dengan perbaikan di berbagai aspek ini, program CKG dapat mencapai targetnya dan memberikan manfaat yang signifikan bagi kesehatan bangsa.





