Serangan Israel-Iran Picu Lonjakan Harga Minyak Dunia

Serangan Israel-Iran Picu Lonjakan Harga Minyak Dunia
Sumber: Kompas.com

Harga minyak mentah dunia melonjak signifikan pada Jumat (13/6/2025) setelah Israel melancarkan serangan udara terhadap Iran tanpa dukungan Amerika Serikat. Serangan ini memicu kekhawatiran pasar akan potensi gangguan pasokan energi global dan konflik yang lebih meluas di Timur Tengah.

Lonjakan harga terlihat jelas pada kontrak berjangka minyak West Texas Intermediate (WTI) dan Brent. Kenaikan ini mencerminkan sentimen negatif pasar terhadap perkembangan geopolitik terkini.

Bacaan Lainnya

Serangan Israel dan Reaksi Internasional

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengumumkan operasi militer terhadap fasilitas nuklir dan pengembangan rudal balistik Iran. Serangan tersebut menargetkan situs pengayaan utama di Natanz, sejumlah ilmuwan nuklir, serta pusat pengembangan rudal.

Amerika Serikat secara tegas menyatakan tidak terlibat dalam serangan tersebut. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut tindakan Israel sebagai aksi sepihak dan memperingatkan Iran agar tidak menyerang kepentingan AS.

Presiden AS Donald Trump, melalui media sosial, menanggapi situasi ini dengan menyinggung kegagalan Iran mencapai kesepakatan nuklir. Ia menyiratkan bahwa Iran kini mungkin memiliki kesempatan kedua untuk mencapai kesepakatan.

Iran sendiri telah mengkonfirmasi kematian beberapa pejabat militer seniornya dalam serangan tersebut. Reaksi keras dari Iran pun diantisipasi.

Dampak terhadap Pasokan Minyak Global

Lonjakan harga minyak mencerminkan kekhawatiran akan potensi gangguan pasokan energi dari Iran dan negara-negara penghasil minyak lainnya di Timur Tengah. Produksi minyak Iran, menurut OPEC, mencapai 3,305 juta barel per hari pada April 2025.

Meskipun belum ada fasilitas produksi atau ekspor minyak Iran yang menjadi target langsung, kekhawatiran tetap ada. Potensi penutupan Selat Hormuz, jalur vital ekspor minyak, menjadi perhatian utama.

Ellen Wald dari Washington Ivy Advisors menilai Iran tidak akan mendapat keuntungan dari menghalangi arus minyak melalui Selat Hormuz. Tindakan tersebut akan memicu pembalasan dan secara ekonomi merugikan Iran.

Kemampuan Iran untuk benar-benar menutup Selat Hormuz juga dipertanyakan. Jalur alternatif melalui Uni Emirat Arab dan Oman dapat digunakan sebagai solusi.

Analisis dan Prospek Ke Depan

China, sebagai importir minyak utama dari Iran, diperkirakan akan menekan Iran agar tidak mengganggu pasokan minyak. Kenaikan harga minyak akan merugikan perekonomian China.

Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol, memastikan pasokan minyak global saat ini masih cukup. IEA memiliki cadangan darurat 1,2 miliar barel dan siap bertindak jika situasi memburuk.

Andy Lipow dari Lipow Oil Associates memperingatkan potensi eskalasi militer jika Iran membalas serangan. Hal ini bisa semakin mengganggu pasokan minyak dan berdampak negatif terhadap harga energi di AS.

Meskipun tensi meningkat, Ellen Wald menilai ancaman terhadap pasokan minyak global saat ini belum separah krisis yang terjadi saat invasi Rusia ke Ukraina pada 2022. Situasi masih dapat dikendalikan, namun kewaspadaan tetap diperlukan.

Ke depan, perkembangan situasi di Timur Tengah akan sangat menentukan arah harga minyak dunia. Peran negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan China dalam meredakan ketegangan akan menjadi faktor kunci dalam menentukan stabilitas pasar energi global.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *