Rupiah Tertekan: AS-China Berunding, Investasi Menanti Apa?

Rupiah Tertekan: AS-China Berunding, Investasi Menanti Apa?
Sumber: Kompas.com

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diprediksi akan melemah pada perdagangan hari ini, Rabu (11/6/2025). Hal ini disebabkan oleh optimisme investor terhadap hasil perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan China. Meskipun belum ada terobosan signifikan, pejabat AS menyatakan optimisme terhadap kelanjutan negosiasi.

Tekanan pada Rupiah di Tengah Optimisme AS-China

Investor cenderung optimis dengan perkembangan perundingan dagang AS-China. Indeks dolar AS memangkas kenaikan sebelumnya dan diperdagangkan sedikit lebih kuat, hanya sebesar 0,16 persen menjadi 99,10 pada Selasa (10/6/2025). Menteri Perdagangan AS, Howard Lutnick, bahkan menyatakan pembicaraan berjalan dengan baik. Namun, optimisme ini berdampak pada tekanan terhadap rupiah.

Bacaan Lainnya

Penguatan dolar AS terhadap poundsterling juga turut memengaruhi. Data ketenagakerjaan Inggris yang lebih lemah dari perkiraan meningkatkan ekspektasi pemotongan suku bunga Bank of England (BoE), mendorong penguatan dolar AS.

Stabilitas Cadangan Devisa dan Sikap Wait and See Investor

Pada perdagangan Selasa, nilai tukar rupiah bergerak di kisaran 16.268-16.284 per dolar AS, dan ditutup menguat tipis 0,01 persen ke level 16.273 per dolar AS. Penguatan ini ditopang oleh data cadangan devisa Indonesia akhir Mei 2025 yang stabil di angka 152,5 miliar dolar AS.

Namun, Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, menilai penguatan rupiah terbatas. Investor cenderung bersikap wait and see menunggu hasil akhir perundingan AS-China. Ia memprediksi rupiah akan bergerak dalam kisaran 16.225-16.350 per dolar AS hari ini.

Analisis Pasar dan Pergerakan Obligasi Pemerintah

Imbal hasil obligasi rupiah sebagian besar tidak berubah, sejalan dengan tren nilai tukar rupiah yang stabil. Yield pada seri acuan 5 tahun, 10 tahun, 15 tahun, dan 20 tahun masing-masing tercatat 6,35 persen (-1bps), 6,77 persen (0bps), 6,98 persen (0bps), dan 7,03 persen (0bps).

Volume perdagangan obligasi pemerintah pada Selasa tercatat 34,53 triliun dolar AS, lebih rendah dari sesi Kamis lalu yang mencapai 47,48 triliun dolar AS. Investor asing meningkatkan kepemilikan obligasi rupiah sebesar Rp 4,85 triliun menjadi Rp 928 triliun (14,56 persen dari total yang beredar) pada 5 Juni 2025. Pemerintah juga berhasil menerbitkan obligasi senilai Rp 10 triliun dari lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN).

Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, memprediksi rupiah akan berkonsolidasi dengan kecenderungan melemah terbatas. Aliran modal asing di pasar modal masih mendukung rupiah, meskipun dolar AS cukup kuat karena antisipasi trade talk China-AS. Ia memperkirakan pergerakan rupiah hari ini di kisaran 16.200-16.300.

Pada pukul 09.09 WIB, rupiah berada di level Rp 16.271,5 per dolar AS, menguat 3,5 poin (0,02 persen) dibanding penutupan sebelumnya. Kurs tengah Jisdor menempatkan nilai tukar rupiah pada Selasa di level Rp 16.276 per dolar AS, menguat dibandingkan hari Kamis di level Rp 16.277 per dolar AS.

Secara keseluruhan, meskipun terdapat faktor positif seperti stabilitas cadangan devisa dan peningkatan kepemilikan obligasi oleh investor asing, optimisme terhadap hasil perundingan AS-China dan penguatan dolar AS menimbulkan tekanan terhadap rupiah. Pergerakan rupiah diperkirakan akan tetap fluktuatif dalam beberapa hari ke depan, bergantung pada perkembangan negosiasi tersebut.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *