Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, telah menggaungkan “deep learning” sebagai pendekatan pembelajaran baru. Namun, sejak awal ia menekankan bahwa ini bukanlah kurikulum baru, melainkan perubahan strategi pengajaran yang berfokus pada pemahaman konseptual yang mendalam.
Rencananya, deep learning akan diterapkan di sekolah-sekolah mulai tahun pelajaran 2025/2026. Mari kita telusuri perjalanan konsep ini, dari awal kemunculannya hingga persiapan implementasinya.
Kurikulum “Ful-Ful” dan Pendekatan Deep Learning
Istilah “deep learning” pertama kali muncul dalam unggahan Instagram Ketua Umum Matematika Nusantara. Menteri Mu’ti menjelaskan perlunya mengurangi materi pelajaran yang terlalu padat, demi pemahaman yang lebih mendalam dan bermakna bagi siswa.
Ia menggambarkan pembelajaran ini sebagai “mindful, meaningful, dan joyful,” yang kemudian disebutnya sebagai “kurikulum ful-ful.” Namun, penting untuk diingat bahwa Mendikdasmen telah mengklarifikasi bahwa deep learning bukanlah kurikulum pengganti, melainkan pendekatan pembelajaran.
Konsep yang Tak Baru, Aplikasinya Luas
Deep learning bukanlah konsep baru. Menteri Mu’ti sendiri mengaku telah mengenal konsep ini sejak masa studinya di Australia pada tahun 1995.
Konsep ini, yang telah diterapkan di beberapa negara Eropa dan Skandinavia sejak tahun 1976, berfokus pada pemahaman yang mendalam dan aplikatif, bukan sekadar menghafal rumus atau mengerjakan soal ujian. Kajian menunjukkan bahwa deep learning dapat diterapkan di berbagai mata pelajaran.
Kemendikdasmen telah melakukan kajian bersama para ahli dan praktisi pendidikan untuk menyempurnakan penerapan deep learning di Indonesia.
Persiapan Implementasi Deep Learning di Tahun Ajaran 2025/2026
Deep learning direncanakan untuk diterapkan pada tahun pelajaran 2025/2026, namun tidak secara serentak di semua sekolah.
Sekolah-sekolah model atau transformasi dari Sekolah Penggerak akan menjadi pilot project dalam penerapan metode ini. Guru-guru di sekolah-sekolah ini telah mendapatkan pelatihan khusus.
Naskah akademik dan capaian pembelajaran telah selesai disusun dan telah melalui uji publik. Semua ini menjadi pondasi implementasi deep learning di Indonesia.
Pelatihan Guru di Australia: Menuju Implementasi Nasional
Salah satu langkah krusial adalah pelatihan guru. Kemendikdasmen telah memilih 30 guru untuk dikirim ke Australia guna mengikuti pelatihan intensif.
Australia dipilih karena menjadi mitra diskusi Kemendikdasmen dalam penyusunan naskah akademik deep learning. Para guru terpilih akan melakukan observasi langsung ke sekolah-sekolah di Australia yang telah sukses menerapkan metode ini.
Pelatihan akan berlangsung selama satu minggu, dengan dua batch masing-masing berjumlah 15 guru. Setelah pelatihan nasional, akan dilanjutkan pelatihan tingkat provinsi dan daerah, melibatkan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP).
Batch pertama direncanakan berangkat pada 25 Mei 2025. Mereka akan fokus pada observasi praktik langsung, bukan teori, di sekolah-sekolah Australia.
Dengan pelatihan yang komprehensif dan dukungan dari berbagai pihak, diharapkan penerapan deep learning dapat meningkatkan kualitas pembelajaran di Indonesia dan mempersiapkan siswa untuk menghadapi tantangan masa depan. Proses ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam memajukan pendidikan nasional melalui pendekatan yang inovatif dan berorientasi pada pemahaman mendalam.





