Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN) di Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, menarik minat investor baik lokal maupun asing. Rencana pemerintah untuk menghentikan impor garam semakin meningkatkan ketertarikan mereka untuk berinvestasi di sektor ini.
Direktur Utama PT Garam, Abraham Mose, menjelaskan pembangunan pabrik pengolahan garam di K-SIGN akan mengurangi biaya produksi dan logistik secara signifikan. Hal ini lebih efisien dibandingkan hanya mengambil garam mentah untuk diolah di tempat lain.
Minat Investor Mengalir ke K-SIGN Rote Ndao
Sejumlah perusahaan telah menyatakan minatnya untuk membangun pabrik pengolahan garam di Rote Ndao. Abraham Mose menyebutkan setidaknya 3-4 perusahaan telah menghubungi PT Garam untuk menyatakan ketertarikan mereka.
Tidak hanya investor lokal, perusahaan asing juga turut berminat. Kebijakan pemerintah yang akan menghentikan impor garam menjadi daya tarik utama bagi investor mancanegara.
Jenis garam yang menarik minat investor juga beragam. Salah satunya adalah garam farmasi, yang memiliki potensi pasar yang besar.
KKP Kembangkan Sentra Produksi Garam Skala Besar
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berencana membangun sentra produksi garam seluas 10.000 hektare di Rote Ndao. Proyek ini ditargetkan rampung pada tahun 2025.
Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP, Koswara, menjelaskan pembangunan akan dilakukan secara bertahap. K-SIGN akan terbagi menjadi 10 zona, dengan zona pertama seluas 10.000 hektare sebagai prioritas.
Pembangunan K-SIGN ini merupakan bagian dari strategi ekstensifikasi KKP. Strategi ini dijalankan bersamaan dengan intensifikasi pada petambak garam rakyat yang sudah ada.
Koswara menambahkan, pembangunan K-SIGN di Rote Ndao direncanakan selesai pada tahun 2025 ini. Pembangunan akan dilakukan secara bertahap dan terbagi ke dalam 10 zona.
Upaya Menuju Swasembada Garam Indonesia
Pembangunan K-SIGN di Rote Ndao merupakan langkah penting Indonesia dalam mencapai swasembada garam. Target swasembada garam sendiri diproyeksikan tercapai pada tahun 2027.
Selain ekstensifikasi melalui pembangunan K-SIGN, KKP juga akan melakukan intensifikasi. Intensifikasi akan difokuskan pada peningkatan produktivitas petambak garam tradisional.
Metode intensifikasi akan meningkatkan produktivitas garam yang dihasilkan. Hal ini akan mendukung upaya swasembada garam nasional.
Dengan meningkatnya minat investor dan dukungan pemerintah melalui pembangunan K-SIGN, Indonesia semakin mendekati target swasembada garam. Kolaborasi antara investor dan pemerintah diharapkan dapat menciptakan industri garam yang efisien dan berkelanjutan, memberikan dampak positif bagi perekonomian daerah dan nasional.
Keberhasilan program ini akan berdampak besar pada kemandirian Indonesia dalam produksi garam. Tidak hanya memenuhi kebutuhan domestik, Indonesia juga berpotensi menjadi eksportir garam di masa mendatang.





