Pemerintah Indonesia optimistis Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Uni Eropa (IEU-CEPA) akan menjadi katalis pertumbuhan ekspor nasional. Uni Eropa saat ini merupakan pasar ekspor penting bagi Indonesia, berkontribusi sebesar 6,5 persen atau sekitar 17,35 miliar dollar AS dari total ekspor Indonesia pada tahun 2024.
Meskipun kinerja ekspor Indonesia ke Uni Eropa menunjukkan fluktuasi dalam beberapa tahun terakhir, dengan puncaknya pada 2022 (21,53 miliar dollar AS) dan sedikit penurunan di tahun berikutnya, IEU-CEPA diharapkan mampu mendorong pertumbuhan yang signifikan dan berkelanjutan.
Proyeksi Pertumbuhan Ekspor Indonesia Pasca IEU-CEPA
Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan, Djatmiko Bris Witjaksono, memproyeksikan peningkatan ekspor Indonesia ke Uni Eropa sebesar 5,4 persen sebagai dampak awal dari IEU-CEPA. Hal ini disampaikan dalam acara Diseminasi Hasil Perundingan IEU-CEPA di Jakarta, Jumat (13/6/2025).
Namun, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan proyeksi yang jauh lebih optimistis. Beliau memperkirakan lonjakan ekspor hingga 50 persen dalam tiga tahun pasca implementasi IEU-CEPA.
Target ambisius ini didasarkan pada upaya pemerintah untuk memastikan komoditas ekspor Indonesia mendapatkan preferensi yang setara dengan negara-negara ASEAN lain. Upaya ini mencakup negosiasi penurunan tarif impor hingga 0 persen untuk komoditas unggulan Indonesia.
Strategi Pemerintah untuk Memanfaatkan IEU-CEPA
Pemerintah menargetkan implementasi IEU-CEPA paling cepat pada Kuartal IV 2026 dan paling lambat Kuartal I 2027. Proses negosiasi saat ini memasuki tahap finalisasi teks (selesai Juli 2025) dan telaah hukum (selesai September 2025).
IEU-CEPA diharapkan memberikan akses pasar yang lebih adil bagi produk unggulan Indonesia, terutama tekstil dan garmen. Penurunan tarif impor hingga 0 persen untuk komoditas tersebut menjadi kunci daya saing di pasar Eropa.
Pemerintah mendorong pelaku industri untuk mempersiapkan diri sejak dini. Hal ini penting agar potensi yang terbuka lebar dapat dimanfaatkan secara maksimal begitu perjanjian mulai berlaku.
Tantangan dan Peluang Sektor Unggulan Indonesia
Airlangga Hartarto menekankan pentingnya Indonesia mampu menyamai kinerja ekspor negara-negara ASEAN lain seperti Vietnam dan Malaysia ke Uni Eropa. IEU-CEPA diharapkan menjadi momentum untuk mencapai hal tersebut.
Sektor tekstil dan garmen, sebagai salah satu komoditas unggulan, diharapkan mendapatkan keuntungan signifikan dari penurunan tarif hingga 0 persen. Namun, persiapan matang dari pelaku industri, termasuk menjalin hubungan dengan buyer di Eropa, sangat krusial.
Pemerintah perlu memastikan agar manfaat IEU-CEPA dapat dirasakan secara merata oleh berbagai sektor industri. Dukungan dan pendampingan bagi pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) sangat penting untuk keberhasilan implementasi perjanjian ini.
Kesimpulannya, IEU-CEPA menyimpan potensi besar untuk mendongkrak ekspor Indonesia ke Uni Eropa. Namun, kesuksesannya bergantung pada persiapan yang matang dari pemerintah dan pelaku industri, serta strategi yang tepat untuk memanfaatkan peluang yang ada dan mengatasi tantangan yang mungkin muncul.
Keberhasilan implementasi IEU-CEPA tidak hanya akan meningkatkan pendapatan negara, tetapi juga akan memberikan dampak positif bagi perekonomian nasional secara keseluruhan, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.





