PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BSI) kembali menegaskan komitmennya terhadap pembangunan ekonomi syariah nasional dan global melalui BSI Global Islamic Finance Summit (GIFS) 2025. Acara akbar ini dibuka oleh Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan P. Roeslani, dan Wakil Menteri BUMN, Kartika Wirjoatmodjo.
BSI GIFS 2025, yang mengusung tema “Transformative Islamic Finance as Catalyst for Growth,” merupakan kelanjutan kesuksesan penyelenggaraan GIFS 2023. Acara ini bukan sekadar forum diskusi, tetapi juga platform untuk menunjukkan relevansi ekonomi syariah terhadap pembangunan ekonomi nasional dan global.
BSI GIFS 2025: Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Syariah
Plt. Direktur Utama BSI, Bob T. Ananta, menjelaskan bahwa BSI GIFS 2025 bertujuan untuk memperlihatkan kontribusi nyata ekonomi syariah terhadap pencapaian Visi Indonesia Emas 2045. Hal ini sejalan dengan Rancangan Akhir Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045 yang menempatkan ekonomi syariah sebagai pilar utama.
Pengembangan ekonomi syariah juga sejalan dengan Asta Cita, sebagai strategi untuk mendorong kemandirian dan ekonomi yang lebih adil dan makmur. BSI GIFS bukan hanya acara sesaat, tetapi platform advokasi BSI sebagai pemimpin perbankan syariah di Indonesia.
Potensi Besar Ekonomi Syariah Indonesia
Rosan P. Roeslani mengapresiasi konsistensi BSI dalam menyelenggarakan GIFS. Kontribusi BSI terhadap ekonomi syariah nasional sangat signifikan, mencapai 50% dari total bisnis perbankan syariah di Indonesia.
Meskipun pangsa pasar perbankan syariah baru sekitar 9%, potensi pertumbuhannya masih sangat besar, terutama mengingat populasi muslim Indonesia yang mencapai 87%. Peningkatan inklusi keuangan, yang saat ini baru 12,7%, juga menjadi fokus utama.
Rosan berharap kolaborasi berbagai sektor, termasuk ekonomi syariah, dapat meningkatkan porsi konsumsi domestik dalam negeri (saat ini 53%-54%) dan mendukung target pertumbuhan ekonomi 8% pada 2029.
Inovasi dan Kolaborasi Global
Kartika Wirjoatmodjo menambahkan bahwa Indonesia, dengan populasi muslim terbesar, berpotensi menjadi pemain kunci dalam perbankan syariah global. Inovasi dalam produk dan layanan perbankan syariah sangat penting untuk meningkatkan daya saing.
Keberhasilan BSI masuk 10 besar Global Islamic Bank menunjukkan tingginya preferensi layanan perbankan syariah. Inovasi juga dapat mendorong pertumbuhan industri halal di Indonesia.
GIFS 2025 menghadirkan pembicara internasional terkemuka, seperti Ian Goldin (University of Oxford), Mehmet Asutay (Durham University), dan Habib Ahmed (Durham University), untuk membahas berbagai aspek ekonomi dan keuangan syariah.
Selain itu, acara ini juga menghadirkan pembicara nasional, antara lain Salman Subakat (Co-Founder Paragon Corp), Rista Zwestika (Financial Planner), dr. Reisa Broto Asmoro, dan Habib Jafar.
Chief Economist BSI, Banjaran Surya Indrastomo, menekankan pentingnya harmonisasi kebijakan antar sektor untuk pengembangan ekonomi syariah yang selaras dengan target pembangunan nasional.
Target Bisnis dan Muslim Consumption Index (MCI)
BSI GIFS 2025 juga bertujuan untuk meningkatkan perolehan bisnis. BSI menargetkan peningkatan 20% dibandingkan GIFS 2023, yang berhasil menghasilkan tambahan bisnis Rp 227,11 miliar.
Pada acara ini, BSI meluncurkan Muslim Consumption Index (MCI) untuk memetakan tren belanja muslim Indonesia, dan platform digital terpadu BEWIZE by BSI untuk memperkuat layanan wholesale dan inklusi keuangan.
Selain itu, BSI GIFS 2025 juga diharapkan menjadi forum pemikiran bagi para aktivis ekonomi syariah nasional dan global. GIFS 2023 telah dihadiri sekitar 1.500 peserta offline dari berbagai kalangan.
Secara keseluruhan, BSI GIFS 2025 menunjukkan komitmen BSI dalam mendorong pertumbuhan ekonomi syariah di Indonesia dan menjadikannya pemain kunci di kancah global. Melalui inovasi, kolaborasi, dan harmonisasi kebijakan, ekonomi syariah diyakini mampu berkontribusi signifikan pada pembangunan ekonomi nasional.





