Deflasi 0,37 Persen di Mei 2025: Daya Beli Masyarakat Tetap Kuat?
Indonesia mengalami deflasi sebesar 0,37 persen secara bulanan pada Mei 2025. Angka ini memicu kekhawatiran akan melemahnya daya beli masyarakat. Namun, Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Suahasil Nazara memberikan pandangan berbeda. Ia menegaskan bahwa deflasi tersebut tidak serta merta mencerminkan penurunan daya beli.
Menurut Wamenkeu, indikator utama daya beli masyarakat adalah inflasi inti, bukan angka deflasi bulanan. Inflasi inti pada Mei 2025 tercatat sebesar 2,4 persen secara tahunan, menunjukkan interaksi yang sehat antara permintaan dan penawaran agregat. Hal ini mengindikasikan bahwa daya beli masyarakat masih terjaga dengan baik.
Inflasi Rendah, Bukan Tanda Daya Beli Melemah
Wamenkeu Suahasil Nazara menyampaikan penjelasannya dalam diskusi Global & Economic Outlook kuartal I-2025 yang digelar Kamar Dagang dan Industri (Kadin) di Jakarta pada 12 Juni 2025. Ia menekankan pentingnya melihat inflasi inti sebagai penentu daya beli. Inflasi inti yang rendah menunjukkan keseimbangan antara permintaan dan penawaran, bukan tanda melemahnya daya beli.
Inflasi tahunan secara keseluruhan pada Mei 2025 tercatat sebesar 1,60 persen. Angka ini menunjukkan kondisi ekonomi yang stabil dan terkendali. Pemerintah terus memantau perkembangan ekonomi untuk memastikan daya beli masyarakat tetap terjaga.
Faktor Penurunan Harga Pangan dan Barang Teratur
Penurunan harga pangan bergejolak (volatile food) dan barang-barang dengan harga yang diatur pemerintah (administered prices) menjadi penyebab utama deflasi. Harga cabai merah dan cabai rawit mengalami penurunan signifikan, berkontribusi besar pada deflasi di kelompok makanan, minuman, dan tembakau.
Penurunan harga tiket pesawat dan bahan bakar minyak (BBM) juga ikut mempengaruhi angka deflasi. Hal ini merupakan dampak dari kebijakan pemerintah yang bertujuan untuk menurunkan harga-harga tertentu dan meringankan beban masyarakat. Musim panen raya untuk beberapa komoditas seperti beras dan jagung turut berkontribusi pada penurunan harga pangan.
Fondasi Ekonomi Indonesia Tetap Kuat
Meskipun terjadi deflasi, Wamenkeu Suahasil Nazara menilai fondasi ekonomi Indonesia tetap kuat. Pertumbuhan ekonomi tetap terjaga, dan inflasi terkendali. Aktivitas produksi juga berjalan baik.
Indeks Harga Konsumen (IHK) Indonesia pada Mei 2025 berada di level 108,07. Inflasi tahunan tertinggi tercatat di Provinsi Papua Pegunungan (5,75 persen), sedangkan terendah di Provinsi Gorontalo (0,28 persen). Deflasi tahunan tertinggi terjadi di Provinsi Papua Barat (-1,51 persen). Di tingkat kabupaten/kota, inflasi tertinggi di Kabupaten Jayawijaya (5,75 persen) dan terendah di Kota Pontianak (0,01 persen).
Secara keseluruhan, kondisi ekonomi Indonesia menunjukkan tren positif. Meskipun deflasi terjadi, hal itu lebih disebabkan oleh faktor struktural seperti panen raya dan kebijakan pemerintah, bukan sebagai indikasi melemahnya daya beli masyarakat. Pemerintah terus berupaya menjaga stabilitas ekonomi dan memastikan kesejahteraan masyarakat.





