Rekonstruksi Penembakan Kopda Basar: Keluarga Ungkap Banyak Kebohongan

Keluarga Tiga Polisi Tewas Ditembak Kopda Basar Ragukan Rekonstruksi

Keluarga tiga anggota Polres Way Kanan yang tewas ditembak Kopda Basar menyatakan ketidakpercayaan terhadap hasil rekonstruksi yang dilakukan Denpom II/3 Lampung. Mereka menduga penyidik berupaya melindungi Kopda Basar.

Bacaan Lainnya

Kejanggalan Rekonstruksi Penembakan

Keponakan AKP Anumerta Lusiyanto, Sapril Eka Putra, mempertanyakan bagaimana peluru bisa menembus samping tubuh pamannya jika penembakan terjadi berhadapan. Hal ini dianggapnya sebagai indikasi rekayasa.

Menurutnya, rekonstruksi tersebut penuh dengan kejanggalan dan pembohongan publik. Kondisi luka tembak yang tidak sesuai dengan skenario berhadapan semakin memperkuat kecurigaannya.

Luka Tembak yang Meragukan

Posisi luka tembak di samping tubuh AKP Lusiyanto menimbulkan pertanyaan besar. Hal ini dinilai bertentangan dengan keterangan yang menyatakan penembakan terjadi dalam posisi berhadap-hadapan.

Sapril menegaskan, anggota polisi yang datang ke lokasi bukanlah sebagai pelaku penyerangan, melainkan target pembunuhan yang telah direncanakan. Oleh karena itu, keluarga dan kuasa hukumnya menuntut keadilan.

Kesaksian Keluarga Korban Lain

Kakak kandung Aipda Anumerta Petrus, Dwi Haryati, juga menyangsikan keterangan yang menyatakan adiknya melakukan pengejaran terhadap Kopda Basar. Ia menolak keterangan tersebut sebagai kebohongan.

Dwi Haryati meminta hukuman seberat-beratnya, bahkan hukuman mati, bagi Kopda Basar. Ia merasa keterangan yang disampaikan pihak penyidik banyak yang tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya.

Tuduhan Suap dan Pengejaran yang Tidak Berdasar

Dwi Haryati tidak mempercayai adanya dugaan suap dalam kasus ini. Ia juga menepis keterangan yang menyebutkan adiknya melakukan pengejaran terhadap Kopda Basar.

Ia menegaskan, adiknya tidak mengejar Kopda Basar sebelum peristiwa penembakan terjadi. Keluarga korban merasa sangat dirugikan dengan keterangan-keterangan yang dinilai tidak berdasar tersebut.

Ibu Briptu Ghalib: Anak Saya Tak Menembak

Ibu kandung Briptu Anumerta Ghalib, Suryalina, menyatakan bahwa anaknya sama sekali tidak melepaskan tembakan. Ia menyebut keterangan yang mengatakan sebaliknya adalah fitnah.

Suryalina menuturkan, berdasarkan keterangan teman Briptu Ghalib yang menjadi saksi, anaknya tidak menembak. Ia sangat terpukul dengan tuduhan tersebut dan menuntut keadilan atas kematian anaknya.

Kondisi Senjata yang Mencurigakan

Suryalina juga mempertanyakan keterangan mengenai senjata Briptu Ghalib yang disebut telah digunakan untuk menembak. Ia menduga keterangan tersebut merupakan bagian dari rekayasa.

Suryalina merasa keterangan yang disampaikan pihak berwajib sangat kejam. Ia menekankan bahwa senjata anaknya masih utuh dan terlipat, membantah keterangan yang menyatakan anaknya menembak duluan. Ia berharap pelaku dihukum seberat-beratnya.

Keluarga korban berharap agar kasus ini diusut tuntas dan keadilan ditegakkan. Ketidakpercayaan mereka terhadap rekonstruksi menunjukkan perlunya penyelidikan lebih mendalam dan transparan untuk mengungkap kebenaran di balik tragedi penembakan tersebut. Pernyataan keluarga korban yang tegas dan bernada emosional mencerminkan kepedihan mendalam yang mereka rasakan atas kehilangan orang-orang tercinta.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *