Turunnya Kunjungan Wisman di Indonesia: Musim Sejuk Memengaruhi Pariwisata?

Turunnya Kunjungan Wisman di Indonesia: Musim Sejuk Memengaruhi Pariwisata?
Turunnya Kunjungan Wisman di Indonesia: Musim Sejuk Memengaruhi Pariwisata?

Awal tahun 2025 menandai periode low season bagi sektor pariwisata Indonesia. Hal ini berdampak pada penurunan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Tanah Air.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan penurunan yang cukup signifikan, baik secara bulanan maupun tahunan. Mari kita telusuri lebih dalam dampak low season ini terhadap sektor pariwisata Indonesia.

Bacaan Lainnya

Penurunan Kunjungan Wisman dan Pengeluarannya

Pada Maret 2025, tercatat 841.030 kunjungan wisman ke Indonesia.

Angka ini menunjukkan penurunan 2,18% dibandingkan Februari 2025 dan 5,63% jika dibandingkan Maret 2024.

Secara kumulatif, Januari hingga Maret 2025 mencatat 2.735.472 kunjungan wisman.

Jumlah kunjungan terbanyak terjadi pada Januari, dengan lebih dari 1 juta wisman.

Tidak hanya jumlah kunjungan, rata-rata pengeluaran wisman juga menurun pada triwulan I 2025.

Pengeluaran per kunjungan tercatat sebesar US$ 1.277,17 atau sekitar Rp 21,07 juta (dengan kurs Rp 16.500), lebih rendah dibandingkan US$ 1.429,40 pada triwulan I 2024.

Dampak Low Season pada Perjalanan Wisatawan Nusantara

Penurunan jumlah perjalanan wisata tidak hanya terjadi pada wisman, tetapi juga wisatawan nusantara (wisnus).

Pada Maret 2025, jumlah perjalanan wisnus mencapai 88,91 juta, turun 1,76% dari 90,50 juta perjalanan pada Februari 2025.

Sebagian besar perjalanan wisnus, yakni 66,08%, terkonsentrasi di Pulau Jawa.

Tiga provinsi tujuan utama wisnus pada triwulan I 2025 adalah Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.

Perjalanan Wisatawan Nasional dan Okupansi Hotel

Jumlah perjalanan wisatawan nasional (wisnas) ke luar negeri pada Maret 2025 mencapai 582.078 perjalanan.

Angka ini menunjukan penurunan 23,32% secara bulanan dan 13,74% secara tahunan.

Meskipun demikian, secara kumulatif, jumlah perjalanan wisnas pada triwulan I 2025 meningkat 6,55% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, mencapai 2.331.252 perjalanan.

Malaysia menjadi negara tujuan terpopuler wisnas dengan 161.292 perjalanan, diikuti Arab Saudi (117.496 perjalanan) dan Singapura (81.970 perjalanan).

Penurunan kunjungan berdampak pada okupansi hotel.

Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang pada Maret 2025 mencapai 33,56%, turun 9,85 poin (y-on-y) dan 13,65 poin (m-to-m).

Sementara TPK hotel nonbintang hanya mencapai 18,73%, turun 3,37 poin (y-on-y) dan 4,44 poin (m-to-m).

Rata-rata lama menginap tamu di hotel bintang juga menurun menjadi 1,67 malam, turun 0,03 poin dibandingkan tahun lalu.

Secara keseluruhan, data BPS menunjukkan dampak signifikan dari low season pada awal tahun 2025 terhadap sektor pariwisata Indonesia. Penurunan jumlah kunjungan dan pengeluaran wisatawan, baik mancanegara maupun nusantara, berdampak pada tingkat okupansi hotel. Perlu strategi yang tepat untuk membangkitkan kembali sektor pariwisata dan meminimalisir dampak negatif low season di masa mendatang.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *