Misteri Makam Ki Ageng Manggir Blora: Ormas Tuduh Palsu

Sebuah rencana pembongkaran makam Ki Ageng Manggir di Blora, Jawa Tengah, sempat menimbulkan kehebohan. Aksi ini digagas oleh DPD Perjuangan Walisongo Indonesia Laskar Sabilillah (PWI-LS) yang meragukan keaslian makam tersebut. Namun, rencana tersebut mendapat penolakan keras dari warga setempat, memicu intervensi pihak kepolisian.

Ketegangan berhasil diredam setelah mediasi antara PWI-LS dan warga. Kepolisian menyatakan insiden ini sebagai kesalahpahaman. Artikel ini akan mengulas kronologi peristiwa, penjelasan dari berbagai pihak terkait, dan fakta-fakta seputar makam yang terletak di Dukuh Manggir, Desa Ngumbul, Kecamatan Todanan.

Bacaan Lainnya

Kronologi Rencana Pembongkaran Makam Ki Ageng Manggir

Rencana pembongkaran makam muncul di tengah maraknya isu makam habib palsu keturunan Ba’Alawi. PWI-LS menduga makam Ki Ageng Manggir termasuk dalam kategori tersebut.

Namun, warga setempat meyakini makam tersebut adalah milik Mbah Abdullah Zarqoni, yang dikenal sebagai Ki Ageng Manggir karena lokasi makamnya. Makam ini ditemukan sekitar tahun 2003.

Pujianto, Bendahara PWI LS Blora, menyatakan niat awal untuk membongkar makam yang dianggap palsu. Namun, mediasi berhasil mencegah pembongkaran.

Pujianto mengaku mendapat informasi bahwa makam tersebut terkait dengan keturunan Keraton Solo, informasi yang perlu diverifikasi lebih lanjut. Ia berencana menelusuri silsilah makam untuk memastikan kebenarannya.

PWI LS menegaskan penolakan terhadap klaim makam sebagai keturunan Ba’Alawi, mengingat kebiasaan pemakaman keturunan Ba’Alawi yang umumnya berada di daerah pesisir, bukan di pegunungan.

Penjelasan Pengurus Makam dan Warga Setempat

Abdul Mukit, Wakil Ketua Pengurus Makam Ki Ageng Manggir, membantah klaim makam palsu. Ia menyatakan makam tersebut milik Mbah Abdullah Zarqoni alias Ki Ageng Manggir.

Identifikasi sosok Mbah Abdullah dilakukan melalui penelusuran panjang oleh para kyai. Mbah Abdullah dipercaya sebagai priyayi dari Mataram yang hidup sekitar 300 tahun lalu dan menjalani masa uzlah (menyepi).

Mukit merasa heran dengan isu makam palsu yang beredar di media sosial, terutama mengingat kesepahaman warga untuk tidak membongkar makam tersebut.

Ia juga menegaskan bahwa Mbah Abdullah bukan habib atau keturunan Ba’Alawi. Mukit berencana menelusuri silsilah Mbah Abdullah hingga ke Keraton Solo untuk memastikan asal-usulnya.

Warga sekitar kompak menolak pembongkaran dan siap membantu penelusuran silsilah, meskipun prosesnya membutuhkan dana dan perencanaan matang.

Penjelasan Pihak Kepolisian dan Kondisi Makam

Kapolsek Todanan, Iptu Joko Sulistyo, mengklarifikasi bahwa rencana pembongkaran batal karena kesalahpahaman.

Situasi di lokasi makam dinyatakan aman dan kondusif. Pihak kepolisian mengimbau agar masalah ini tidak diperpanjang.

Joko menegaskan bahwa kegiatan di lokasi makam hanya untuk memastikan keberadaan makam, bukan untuk pembongkaran.

Makam Ki Ageng Manggir dibangun dengan batu bata dan semen, terletak di lokasi agak terpencil dengan akses jalan yang menanjak. Warga membangun tangga menuju makam secara swadaya.

Batu nisan makam berwarna putih dan berukuran lebih besar dari nisan pada umumnya. Awalnya, makam hanya berupa tumpukan batu sebelum kemudian dibangun oleh warga.

Peristiwa ini menunjukan pentingnya komunikasi dan klarifikasi sebelum mengambil tindakan yang berpotensi menimbulkan konflik.

Ke depannya, diharapkan proses penelusuran silsilah makam Ki Ageng Manggir dapat dilakukan secara transparan dan melibatkan berbagai pihak terkait agar tercipta kesimpulan yang akurat dan diterima semua pihak.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *