Kisah Inspiratif: Paus Fransiskus Kunjungi Indonesia Sederhana

Umat Katolik dunia berduka atas wafatnya Paus Fransiskus pada usia 88 tahun. Kepergian pemimpin spiritual ini meninggalkan kesan mendalam, terutama karena kesederhanaannya yang luar biasa.

Paus Fransiskus meninggal dunia dengan tenang di Vatikan setelah menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Poliklinik Agostino Gemelli. Awalnya, beliau dirawat karena bronkitis, namun kondisinya memburuk hingga didiagnosis pneumonia bilateral.

Bacaan Lainnya

Kepergian Paus Fransiskus yang Tenang Setelah Paskah

Meninggalnya Paus Fransiskus terjadi sehari setelah beliau muncul di balkon Basilika Santo Petrus untuk merayakan Paskah.

Dalam kesempatan itu, beliau menyampaikan salam Paskah kepada para jemaah dan memberikan berkat “Urbi et Orbi” (kepada kota dan dunia).

Kesederhanaan Paus Fransiskus: Teladan yang Memukau

Bahkan sebelum kondisi kesehatannya memburuk, Paus Fransiskus telah menunjukkan kesederhanaannya yang menginspirasi.

Hal ini terlihat jelas selama kunjungan Apostolik ke Indonesia pada September 2024.

Saat berkunjung ke Indonesia, Paus Fransiskus memilih untuk terbang menggunakan penerbangan komersial ITA Airways, bukan jet pribadi. Perjalanan selama 13 jam tersebut menjadi perjalanan terpanjang yang pernah ditempuhnya dengan pesawat.

Di Jakarta, beliau menolak menginap di hotel mewah dan lebih memilih tinggal di Kedutaan Besar Vatikan.

Untuk mobilitasnya di Jakarta, Paus memilih menggunakan Toyota Innova Zenix dan mobil modifikasi Pindad Maung MV3, bukan kendaraan mewah kepresidenan.

Reaksi Pemerintah Indonesia

Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan bahwa semua pilihan transportasi dan akomodasi tersebut merupakan keinginan Paus Fransiskus sendiri.

Pemerintah Indonesia, menurut Luhut, menghormati dan mengikuti permintaan tersebut meskipun telah menyiapkan fasilitas terbaik dan pengamanan ketat untuk tamu negara.

Warisan Sederhana Paus Fransiskus: Pemakaman yang Sederhana

Kesederhanaan Paus Fransiskus berlanjut hingga akhir hayatnya. Beliau bahkan meminta pemakaman yang sederhana, berbeda dari tradisi pemakaman Paus sebelumnya yang rumit dan mewah.

BBC melaporkan bahwa pemakaman Paus biasanya melibatkan tiga peti mati yang terbuat dari kayu cemara, timah, dan kayu ek.

Namun, Paus Fransiskus memilih peti mati kayu sederhana yang dilapisi seng. Beliau juga menghapus tradisi pemakaman dengan jenazah diletakkan di atas panggung yang ditinggikan di Basilika Santo Petrus.

Sebagai gantinya, para pelayat dapat memberikan penghormatan langsung kepada jenazah yang diletakkan di dalam peti mati yang terbuka.

Lebih istimewa lagi, Paus Fransiskus akan menjadi Paus pertama dalam lebih dari seabad yang dimakamkan di luar Vatikan, yaitu di Basilika St. Mary Major di Roma.

Kehidupan dan kepergian Paus Fransiskus menjadi pelajaran berharga tentang kesederhanaan dan kerendahan hati. Semoga beliau beristirahat dalam damai.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *