Jelajahi Surga Tersembunyi: Destinasi Wisata Indonesia Menawan

Setiap tanggal 22 April, dunia memperingati Hari Bumi. Peringatan ini bermula dari keprihatinan Senator Gaylord Nelson terhadap bencana tumpahnya minyak di Santa Barbara, California pada 1969. Sejak tahun 1970, peringatan Hari Bumi telah diadopsi oleh lebih dari 175 negara sebagai upaya kolektif menyelamatkan planet kita.

Meningkatnya kesadaran lingkungan global dimulai pada era 1970-an, seiring dengan kerusakan lingkungan yang semakin parah. Konferensi Stockholm (1972) menjadi tonggak penting, berkembang menjadi KTT Bumi di Rio de Janeiro, Protokol Kyoto, dan puncaknya, Perjanjian Paris.

Bacaan Lainnya

Pertumbuhan Populasi dan Tekanan terhadap Lingkungan

Data Our World in Data menunjukkan peningkatan populasi dunia yang signifikan. Dari dua miliar jiwa pada 1928, kini mencapai delapan miliar jiwa.

Peningkatan ini berdampak pada peningkatan kebutuhan sumber daya alam, lahan, dan industri. Hal ini secara langsung menekan daya dukung lingkungan bumi.

Laporan Risiko Global 2025 dari World Economic Forum (WEF) memprediksi risiko terbesar dekade mendatang didominasi ancaman lingkungan, termasuk cuaca ekstrem, hilangnya keanekaragaman hayati, runtuhnya ekosistem, kelangkaan sumber daya alam, dan polusi.

Pariwisata Berkelanjutan: Tantangan dan Peluang

Kerusakan lingkungan mengancam sektor pariwisata, yang berperan penting dalam perekonomian Indonesia. Pariwisata alam Indonesia, seperti di Bali, Labuan Bajo, Lombok, dan Raja Ampat, rentan terhadap dampak negatif lingkungan.

Sektor pariwisata berkontribusi signifikan terhadap PDB Indonesia (4,01% pada 2024) dan menciptakan lapangan kerja bagi 24,5 juta jiwa. Pariwisata merupakan mesin penggerak ekonomi sosial yang penting.

Pariwisata berkelanjutan dapat menjadi kunci pertumbuhan ekonomi hingga 8% dan menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global. Namun, keberlanjutan lingkungan harus menjadi prioritas utama.

Membumikan Destinasi Wisata: Konsep Integratif untuk Keberlanjutan

Konsep “membumikan” destinasi wisata, terinspirasi dari filosofi Jawa “menwongkan”, menekankan penghormatan dan empati terhadap lingkungan dan masyarakat.

“Membumikan” secara lingkungan berarti menjaga destinasi wisata sesuai daya dukung lingkungan, menjaga kualitas lingkungan, dan mengelola sampah, terutama sampah plastik.

Implementasi “membumikan” secara sosial meliputi pelestarian adat istiadat dan interaksi sosial yang harmonis. Secara ekonomi, “membumikan” berarti memastikan manfaat ekonomi dari pariwisata dirasakan masyarakat dan lingkungan.

Penerapan ekonomi sirkular merupakan kunci untuk “membumikan” destinasi wisata secara utuh. Ekonomi sirkular meminimalkan limbah, mengoptimalkan penggunaan sumber daya, dan memperpanjang umur pakai produk.

Penerapan ekonomi sirkular mengurangi tekanan lingkungan akibat sampah, menjaga harmoni sosial, dan meningkatkan efisiensi ekonomi. Hal ini sejalan dengan upaya mengurangi kekhawatiran akan kerusakan lingkungan.

Upaya “membumikan” destinasi wisata akan mengurangi tekanan lingkungan, memperkuat pariwisata sebagai penggerak ekonomi sosial, dan memperkuat norma sosial Indonesia. Semua pihak, termasuk pemerintah, pengelola destinasi, dan wisatawan, perlu berperan aktif.

Selamat Hari Bumi! Mari kita jaga bumi dengan “membumikan” destinasi wisata Indonesia.

Penulis: Dr. Yuki M.A. Wardhana, Dosen Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia dan Ketua Umum Indonesia Environmental Scientist Association.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *