China memegang kendali signifikan atas pasokan tanah jarang dunia, mineral krusial untuk berbagai industri teknologi canggih. Negara tersebut menambang 70% dan memproses 90% pasokan global, menjadikan ini senjata ampuh dalam persaingan ekonomi internasional, terutama dengan Amerika Serikat.
Dominasi China di Industri Tanah Jarang: Sejarah dan Strategi
Dominasi China dalam industri tanah jarang tak terjadi secara tiba-tiba. Ekstraksi tanah jarang dimulai sejak tahun 1950-an, namun perkembangan pesat terjadi di akhir 1970-an.
Keberhasilan China dipicu oleh beberapa faktor, termasuk biaya tenaga kerja yang rendah, standar lingkungan yang longgar, dan adopsi teknologi asing. Hal ini dibenarkan oleh Stan Trout, pendiri konsultan tanah jarang Spontaneous Materials, yang menyebut banyak teknologi yang digunakan China berasal dari AS, Jepang, atau Eropa.
Seiring meningkatnya produksi, China menyadari potensi strategis tanah jarang. Investasi besar-besaran dalam teknologi, riset dan pengembangan (R&D), dan otomatisasi semakin memperkuat cengkeramannya di industri ini.
Peran Deng Xiaoping dalam Visi Dominasi Tanah Jarang
Pernyataan Deng Xiaoping tahun 1992, “Meskipun ada minyak di Timur Tengah, Tiongkok memiliki tanah jarang,” mencerminkan visi jauh ke depan. Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya tanah jarang bagi perekonomian dan kekuatan China.
Visi Deng Xiaoping telah terwujud. China kini mendominasi rantai pasokan tanah jarang global, meskipun biaya tenaga kerja sudah tidak selow lagi. Hal ini menunjukkan strategi jangka panjang China yang efektif dalam penguasaan sumber daya strategis.
Tantangan bagi AS dan Upaya Diversifikasi
Keunggulan kompetitif China di industri tanah jarang menyebabkan AS kehilangan kemampuan produksi domestik. Perusahaan-perusahaan AS yang dulunya memproduksi magnet tanah jarang terpaksa gulung tikar karena kalah bersaing dengan harga lebih murah dari China.
Ketergantungan AS pada China sangat besar. Dari tahun 2020 hingga 2023, AS mengimpor 70% senyawa dan logam tanah jarang dari China. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran atas keamanan pasokan dan ketahanan ekonomi nasional.
Sebagai respons, AS meningkatkan upaya membangun rantai pasokan tanah jarang domestik. Sejak 2020, Departemen Pertahanan AS telah menggelontorkan dana lebih dari USD 439 juta untuk program ini.
Inisiatif Swasta AS dalam Mengurangi Ketergantungan pada China
Beberapa perusahaan AS melihat kontrol ekspor China sebagai peluang untuk mempercepat produksi domestik. Phoenix Tailings, misalnya, mengembangkan teknologi pemurnian tanah jarang tanpa limbah dan emisi.
Perusahaan lain, USA Rare Earth, membangun pabrik magnet di Texas yang akan memproduksi 5.000 ton magnet tanah jarang setiap tahun. Upaya-upaya ini menunjukkan potensi AS dalam mengurangi ketergantungan pada China.
Masa Depan Industri Tanah Jarang: Persaingan dan Kerjasama
Kontrol ekspor China atas tanah jarang membatasi pilihan negara-negara lain. Namun, upaya diversifikasi dan inovasi teknologi di negara-negara seperti AS menunjukkan potensi untuk mengurangi dominasi China di masa depan.
Keberhasilan upaya diversifikasi ini akan bergantung pada berbagai faktor, termasuk dukungan pemerintah, investasi swasta, dan pengembangan teknologi yang efisien dan ramah lingkungan. Persaingan dan kerjasama global akan menjadi kunci dalam membentuk masa depan industri tanah jarang.
Langkah-langkah AS untuk membangun kembali kemampuan produksi dalam negeri menunjukkan komitmen untuk mengurangi ketergantungan pada China. Namun, jalan menuju kemandirian dalam hal tanah jarang masih panjang dan penuh tantangan. Suksesnya upaya ini akan berdampak signifikan terhadap lanskap geopolitik dan ekonomi global.





