Manajer Manchester United, Ruben Amorim, dikabarkan akan melakukan perombakan besar-besaran terhadap skuadnya pada musim panas ini. Beberapa pemain diperkirakan akan meninggalkan Old Trafford. Langkah ini merupakan konsekuensi dari filosofi kepelatihan Amorim yang tegas.
Amorim konsisten dengan pendekatannya, yakni melepaskan pemain yang tidak sejalan dengan strateginya. Hal ini sudah terlihat sejak awal kepemimpinannya di Manchester United.
Perombakan Skuad di Manchester United
Sejak awal Desember, Amorim sudah menunjukkan komitmennya terhadap perombakan skuad. Ia tak segan mencadangkan pemain bintang seperti Marcus Rashford dan Alejandro Garnacho dalam pertandingan melawan Manchester City.
Rashford bahkan sempat dipinjamkan ke Aston Villa pada Januari dan diprediksi akan hengkang secara permanen pada musim panas nanti.
Sementara Garnacho, yang dikabarkan memiliki perbedaan pendapat dengan Amorim, juga masuk dalam daftar jual. Sejumlah klub besar, termasuk Napoli dan Chelsea, tertarik untuk merekrut pemain sayap Argentina itu dengan harga sekitar £40 juta.
Pengalaman di Sporting CP: Sebuah Preseden
Sebelum menangani Manchester United, Amorim telah menunjukkan kemampuannya dalam merombak skuad di Sporting CP. Ia berhasil menjual beberapa bintang dan tetap meraih dua gelar liga.
Saat mengambil alih Sporting pada Maret 2020, Amorim memiliki visi yang jelas: membangun skuad yang sesuai dengan filosofinya.
Visi ini mengharuskan perombakan besar-besaran. Pada jendela transfer pertamanya, ia menjual tujuh pemain, melepas tiga pemain dengan status bebas transfer, dan meminjamkan 15 pemain lainnya.
Contoh Kasus Pemecatan Pemain
Marcos Acuna, meskipun telah bermain 36 kali dan menjadi kapten di laga terakhir melawan Benfica, tetap dijual ke Sevilla.
Islam Slimani, pemain yang sempat menjadi favorit penggemar setelah kembali ke Sporting pada 2022, juga bernasib sama. Meskipun produktif mencetak gol, Slimani didepak karena dianggap kurang berkomitmen dan tidak berjuang keras.
Amorim bahkan pernah memulangkan Slimani lebih awal dari sesi latihan karena alasan tersebut.
Kesimpulan: Sebuah Strategi yang Berisiko Tinggi, Hasilnya Tinggi
Amorim tampaknya menerapkan strategi yang sama di Manchester United seperti yang ia terapkan di Sporting CP. Strategi ini berisiko, karena membutuhkan keberanian untuk melepaskan pemain bintang. Namun, jika berhasil, dapat menghasilkan tim yang lebih solid dan sesuai dengan filosofi kepelatihannya.
Keberhasilan Amorim di Sporting CP menunjukkan bahwa pendekatannya dapat membuahkan hasil. Namun, tetap akan menarik untuk melihat apakah strategi ini akan berjalan efektif di klub sebesar Manchester United.
Masa depan Manchester United di bawah kepemimpinan Amorim akan sangat bergantung pada keberhasilan perombakan skuad ini dan seberapa baik tim baru yang dibentuknya mampu beradaptasi.





