Amerika Serikat (AS) tengah menghadapi penurunan signifikan kunjungan wisatawan mancanegara. Hal ini berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi yang sangat besar bagi negara tersebut.
World Travel and Tourism Council (WTTC), bersama Oxford Economics, memprediksi AS akan kehilangan sekitar USD 12,5 miliar (lebih dari Rp 200 triliun) dari belanja wisatawan asing pada tahun 2025. Ini merupakan dampak negatif yang signifikan bagi industri pariwisata AS.
Kebijakan Ketat dan Dampaknya terhadap Pariwisata AS
Penurunan jumlah wisatawan asing di AS dikaitkan dengan kebijakan imigrasi yang ketat di masa pemerintahan Presiden Donald Trump. Kebijakan ini dinilai telah menciptakan iklim yang kurang ramah bagi turis internasional.
Selain itu, pernyataan politik kontroversial dan kebijakan tarif terhadap barang asing turut berperan dalam penurunan minat berkunjung ke AS. Banyak konsumen di luar negeri memilih untuk memboikot produk-produk Amerika dan menghindari perjalanan ke negara tersebut.
Ancaman Kerugian Triliunan Rupiah dan Penurunan Belanja Wisatawan
Jumlah belanja wisatawan mancanegara di AS diperkirakan hanya mencapai USD 181 miliar (sekitar Rp 2.896 triliun) pada tahun 2025. Angka ini menandai penurunan sekitar 22,5% dibandingkan puncaknya satu dekade lalu.
WTTC menyebut penurunan ini sebagai pukulan telak bagi ekonomi AS, berdampak pada masyarakat, pekerjaan, dan bisnis di seluruh negeri. AS menjadi satu-satunya negara yang diprediksi mengalami penurunan pengeluaran wisatawan asing pada tahun ini.
Kekhawatiran Visa dan Kesan ‘Negara Tertutup’
Presiden WTTC, Julia Simpson, menyatakan keprihatinan atas situasi ini dan mendesak pemerintah AS untuk mengambil langkah penyelamatan sektor pariwisata. Ia menilai pemerintah AS memberikan kesan “kami tutup” bagi wisatawan asing.
Rasa takut menjadi alasan utama mengapa banyak orang enggan mengunjungi AS. Kekhawatiran akan proses visa, penahanan tanpa alasan, dan berbagai faktor lain membuat potensi wisatawan ragu untuk datang.
Data dari Departemen Perdagangan AS memperkuat prediksi ini. Pada Maret 2020, terjadi penurunan tajam jumlah wisatawan dari berbagai negara, termasuk Inggris, Korea Selatan, Jerman, Irlandia, Spanyol, dan Kanada.
Ancaman bagi Sektor Pariwisata AS
Penurunan jumlah wisatawan asing merupakan ancaman serius bagi ekonomi AS. Sektor pariwisata pada tahun 2024 berkontribusi sekitar USD 2,6 triliun terhadap PDB, menopang lebih dari 20 juta lapangan kerja, dan menghasilkan USD 585 miliar pendapatan pajak.
Ironisnya, sementara kunjungan wisatawan asing menurun, warga AS justru semakin sering bepergian ke luar negeri. Hal ini memperburuk kondisi karena uang wisata malah dibelanjakan di luar negeri, bukan di dalam negeri.
WTTC menekankan bahwa penurunan ini bukanlah penurunan biasa, melainkan tanda bahaya yang menunjukkan AS semakin kehilangan daya tariknya di mata wisatawan internasional. Perlu adanya strategi yang komprehensif dari pemerintah AS untuk membalikkan tren negatif ini dan mengembalikan daya tarik pariwisata negaranya.
Ke depan, AS perlu mempertimbangkan untuk merevisi kebijakan imigrasi dan komunikasi publik yang lebih efektif untuk memperbaiki citra negaranya di mata dunia dan menarik kembali minat wisatawan mancanegara.





