Dua tahun setelah menerima “kartu kuning” dari UNESCO pada 2023, Geopark Kaldera Toba kembali menghadapi ujian. Pada Juli 2025, tim asesor UNESCO akan melakukan penilaian ulang terhadap kelayakannya sebagai UNESCO Global Geopark (UGGp).
Situasi ini telah membangkitkan kepedulian berbagai pihak, termasuk Kementerian Pariwisata dan bahkan Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Sukarnoputri. Indonesia hanya memiliki waktu dua bulan untuk memperbaiki kekurangan dan meyakinkan UNESCO.
Respon Pemerintah dan Upaya Penyelamatan Geopark Kaldera Toba
Kementerian Pariwisata (Kemenpar) langsung bergerak cepat menanggapi situasi kritis ini. General Manager Badan Pengelola Kaldera Toba UGGp, Dr. Azizul Kholis, dipanggil ke Jakarta untuk memaparkan perkembangan terkini.
Azizul optimistis Geopark Kaldera Toba dapat mempertahankan statusnya. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah untuk mengatasi tantangan yang ada.
Sebagai bentuk dukungan nyata, Kemenpar telah mengalokasikan Dana Alokasi Khusus (DAK) 2024 sebesar Rp 56,6 miliar. Dana tersebut diperuntukkan bagi pembangunan dan revitalisasi geosite di delapan kabupaten sekitar Danau Toba.
Selain DAK, Kemenpar juga berencana meningkatkan kapasitas SDM, melakukan koordinasi teknis, dan merevitalisasi beberapa geosite penting, termasuk Monkey Forest Sibaganding dan Geosite Pulau Sibandang.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menegaskan komitmen pemerintah pusat untuk mendukung penuh Geopark Kaldera Toba. Pemerintah akan memastikan semua rekomendasi UNESCO dapat dipenuhi.
Rencana Strategis Kemenpar
Beberapa rencana strategis Kemenpar untuk menyelamatkan Geopark Kaldera Toba meliputi pembuatan panel interpretasi di geosite. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman publik tentang kawasan tersebut.
Kemenpar juga akan menyelenggarakan event MICE (Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions) yang bertemakan geopark dan pariwisata berkelanjutan.
Terakhir, penyusunan siteplan geosite akan dilakukan pada tahun 2026 untuk perencanaan pembangunan yang terintegrasi dan berkelanjutan.
Dukungan dari PDI Perjuangan
Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, turut memberikan perhatian serius terhadap peringatan UNESCO ini.
Melalui surat kepada kader PDIP yang juga Bupati Tapanuli Tengah, Masinton Pasaribu, Megawati meminta kepala daerah PDIP di Sumatera Utara untuk memperhatikan dan memperjuangkan keberlanjutan Geopark Kaldera Toba.
Megawati menekankan pentingnya koordinasi yang intensif dan berkelanjutan dalam pengelolaan geopark. Keterlibatan masyarakat lokal dalam pengambilan keputusan juga dianggap sangat penting.
Bupati Humbang Hasundutan, Oloan Nababan, yang juga kader PDIP, telah menyatakan komitmennya untuk menindaklanjuti pesan Megawati.
Masinton menambahkan, pesan Megawati bertujuan agar pengelolaan geopark tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga memperhatikan aspek sosial dan budaya masyarakat sekitar.
Rekomendasi UNESCO dan Langkah Perbaikan
UNESCO memberikan tujuh rekomendasi utama yang harus dipenuhi oleh pengelola Geopark Kaldera Toba. Rekomendasi ini meliputi perbaikan infrastruktur, peningkatan informasi dan promosi, serta penguatan kerjasama.
Tujuh Rekomendasi Utama UNESCO:
- Perbaikan dan penambahan papan informasi ilmiah di outcrops (batuan dasar yang muncul ke permukaan bumi) yang mudah diakses dan representatif.
- Inventarisasi warisan alam, budaya, dan tak berwujud yang belum terdaftar.
- Partisipasi pengelola situs dalam pelatihan intensif internasional tentang UNESCO Global Geoparks.
- Penguatan komunikasi dengan Sekretariat UGGp dan GGN untuk mendapatkan informasi terbaru.
- Peningkatan eksposur Geopark Kaldera Toba, termasuk peningkatan penginapan dan konten media sosial.
- Penambahan logo GGN dan APGN pada semua materi promosi geopark.
- Pembuatan kebijakan branding yang rinci dan konkret untuk menciptakan situasi win-win antara Geopark Kaldera Toba dan para mitranya.
Geopark Kaldera Toba bukanlah satu-satunya yang mendapat peringatan dari UNESCO. Beberapa geopark lain di dunia juga menerima peringatan serupa, menunjukkan betapa pentingnya pengelolaan yang berkelanjutan.
Dengan waktu yang terbatas, upaya kolaboratif dan komitmen kuat dari semua pihak menjadi kunci keberhasilan mempertahankan status Geopark Kaldera Toba sebagai bagian dari jaringan UNESCO Global Geoparks.





