Bandara Asia Berbenah: Antisipasi Lonjakan Penumpang Liburan

Bandara Asia Berbenah: Antisipasi Lonjakan Penumpang Liburan
Bandara Asia Berbenah: Antisipasi Lonjakan Penumpang Liburan

Asia tengah bersiap menjadi pusat konektivitas udara global. Berbagai negara di kawasan ini berlomba-lomba memodernisasi infrastruktur bandara mereka. Singapura, misalnya, sedang gencar membangun Terminal 5 di Bandara Changi.

Proyek ambisius ini menandakan komitmen Singapura untuk mempertahankan posisinya sebagai hub penerbangan utama di Asia Pasifik. Terminal 5 yang akan dibangun di lahan seluas 1.080 hektare ini diperkirakan mampu menampung hingga 140 juta penumpang per tahun.

Bacaan Lainnya

Ekspansi Bandara Changi: Menyambut Lonjakan Perjalanan Udara

Bandara Changi, yang telah 13 kali dinobatkan sebagai ‘Bandara Terbaik Dunia’ oleh Skytrax, terus berbenah. Pada 2024, bandara ini melayani hampir 68 juta penumpang.

Pembangunan Terminal 5 merupakan strategi jangka panjang Singapura untuk menghadapi lonjakan pertumbuhan perjalanan udara di kawasan Asia Pasifik. Perdana Menteri Singapura, Lawrence Wong, menekankan pentingnya kesiapan Changi sebagai penghubung utama di kawasan ini.

Dengan tambahan terminal baru, Bandara Changi menargetkan konektivitas ke 200 kota, meningkat dari angka 170 kota saat ini. Konektivitas udara yang kuat dinilai sangat penting bagi Singapura sebagai negara kecil.

Sektor penerbangan berkontribusi sekitar 5% terhadap PDB Singapura. Ekspansi Bandara Changi diharapkan mampu mendongkrak angka ini lebih tinggi lagi.

Persaingan Ketat Antarbandara di Asia

Singapura bukanlah satu-satunya negara di Asia yang tengah mengembangkan infrastruktur bandara mereka. Hong Kong telah menambah landasan pacu ketiga dan memperluas Terminal 2.

Bandara Hong Kong menargetkan kapasitas 120 juta penumpang dan 10 juta ton kargo per tahun pada 2035. Bangkok juga tengah melakukan ekspansi besar di Bandara Suvarnabhumi.

Bandara Incheon di Korea Selatan juga telah menyelesaikan perluasan tahap keempat, meningkatkan kapasitasnya menjadi 106 juta penumpang per tahun. Hal ini menjadikan Incheon sebagai bandara terbesar ketiga di dunia.

Deloitte Asia Tenggara mencatat pertumbuhan pesat perjalanan udara di Asia pasca pandemi COVID-19. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan kelas menengah dan urbanisasi.

Permintaan perjalanan udara di Asia diperkirakan akan meningkat 7,9 persen dalam waktu dekat dan 5,1 persen dalam jangka panjang. Angka ini merupakan yang tertinggi di dunia.

Proyeksi ini menunjukkan bahwa bandara-bandara di Asia perlu menggandakan kapasitas mereka dalam 20 tahun mendatang untuk memenuhi kebutuhan yang terus meningkat.

Dorongan Pariwisata dan Target Pendapatan Rp 700 Triliun

Pembangunan Terminal 5 di Bandara Changi juga berkaitan erat dengan target ambisius Singapura di sektor pariwisata.

Pemerintah Singapura menargetkan peningkatan pendapatan pariwisata dari USD 29,8 miliar pada 2024 menjadi USD 47-50 miliar dalam 15 tahun ke depan. Strategi ‘Pariwisata 2040’ fokus pada pelancong bisnis dan penumpang transit.

Pemerintah berencana menggandakan pemasukan dari wisatawan bisnis. Penumpang transit dan transfer saat ini menyumbang sepertiga dari lalu lintas Bandara Changi.

Terminal 5 dan pengembangan kawasan Bandara Changi Timur, termasuk landasan pacu ketiga dan zona industri, diharapkan mampu mempertahankan posisi Singapura sebagai hub udara utama dunia.

Secara keseluruhan, pengembangan infrastruktur bandara di Asia, khususnya ekspansi Bandara Changi, menunjukkan pergeseran dinamika konektivitas udara global dan peran penting Asia di dalamnya. Kompetisi antar negara untuk menjadi pusat utama penerbangan semakin ketat, menuntut inovasi dan strategi yang mumpuni.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *