Rahasia Kegagalan Resto 9 Cabang: Rugi 7 Miliar?

Industri makanan dan minuman (F&B) memang penuh tantangan. Buktinya, Khoo Keat Hwee, pengusaha asal Singapura, mengalami kerugian besar hingga bangkrut meskipun pernah mengelola sembilan cabang restoran Mentai-Ya.

Kisah Keat Hwee menjadi pengingat bahwa jumlah cabang yang banyak tidak menjamin keberhasilan bisnis kuliner. Kegagalannya mengakibatkan kerugian hingga Rp 7 miliar.

Bacaan Lainnya

Mentai-Ya Gulung Tikar, Sembilan Cabang Ditutup

Keat Hwee, pemilik Mentai-Ya, mulanya memiliki sembilan cabang restoran Jepang dan dua kafe. Namun, semua bisnis kulinernya kini telah tutup.

Ia awalnya mengumumkan akan menutup tiga cabang Mentai-Ya. Namun, pada 13 April 2025, ia mengumumkan penutupan seluruh cabang sisanya.

Melalui Instagram Story, Keat Hwee mengungkapkan kesedihannya atas kegagalan bisnisnya. Ia mengaku merasa sangat terpukul dan kecewa.

Penyebab Kebangkrutan dan Kerugian Miliaran Rupiah

Sejak Maret 2025, Keat Hwee sudah menyinggung kesulitan yang dihadapinya. Salah satu masalah utamanya adalah harga sewa yang sangat tinggi di Singapura.

Ia juga menyesali keputusannya untuk mendaftarkan pajak barang dan jasa (GST), yang membuat harga jual produknya menjadi lebih mahal.

Semua gerai Mentai-Ya telah ditutup sejak minggu sebelumnya. Keat Hwee berencana untuk beristirahat, memulihkan diri, dan merencanakan langkah selanjutnya.

Total kerugian yang dideritanya mencapai sekitar $550.000 atau setara dengan Rp 7 miliar dalam kurun waktu dua tahun. Ia mengaku bekerja terlalu keras dan menyesal tidak menutup bisnisnya lebih awal.

Pelajaran Berharga dan Rencana Masa Depan

Keat Hwee menolak berkomentar lebih lanjut tentang utangnya. Ia juga tidak menanggapi laporan sebelumnya mengenai potensi kebangkrutan jika ia menutup bisnisnya sepenuhnya.

Dalam unggahan Instagram lainnya, ia menyatakan niatnya untuk membantu pengusaha kuliner lain agar tidak mengalami kegagalan yang sama.

Ia mempertimbangkan untuk menjadi konsultan bagi pengusaha kuliner yang sudah berjalan atau yang baru memulai. Kegagalannya di Mentai-Ya menjadi pelajaran berharga.

Sebelum Mentai-Ya (2020), Keat Hwee juga pernah menjalankan Tenryu Japanese Dining (2015-2018) yang juga mengalami kegagalan dan meninggalkan utang sekitar Rp 1,5 miliar. Ia sempat bekerja sebagai pengemudi Grab untuk melunasi utangnya.

Meskipun telah dua kali gagal dalam bisnis F&B, Keat Hwee mengaku masih mencintai dunia kuliner. Ia mengatakan mungkin tidak akan memulai bisnis F&B dalam beberapa tahun ke depan, namun tetap ingin berkecimpung di bidang ini.

Ia mempertimbangkan saran untuk membuka bisnis rumahan, namun saat ini masih berfokus untuk memulihkan diri dari dampak emosional dan finansial atas kegagalan bisnisnya.

Kegagalan bisnis Mentai-Ya menjadi pelajaran berharga tentang tantangan industri F&B dan pentingnya perencanaan bisnis yang matang. Semoga pengalaman Keat Hwee dapat menjadi inspirasi bagi pengusaha kuliner lainnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *