Perjalanan wisata seharusnya menciptakan kenangan indah. Namun, realitanya, banyak kejadian tak terduga bisa terjadi. Persiapan yang matang menjadi kunci utama untuk menghindari pengalaman buruk saat berpetualang. Kejadian beberapa waktu terakhir ini menjadi bukti pentingnya persiapan tersebut.
Seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun, Tinotenda Pudu, hilang selama lima hari di Taman Nasional Matusadona, Zimbabwe, yang merupakan habitat singa. Kejadian ini terjadi pada 27 Desember 2025. Penyelamatannya melibatkan petugas taman nasional, polisi, dan warga setempat.
Kisah lain yang menyita perhatian adalah kasus Jose Salvador Alvarenga. Pada awal 2014, ia ditemukan di sebuah atol di Kepulauan Marshall setelah terombang-ambing di Samudra Pasifik selama lebih dari 13 bulan. Perahu kecilnya rusak akibat badai hebat pada November 2012, dan ia terdampar tanpa arah.
Tragedi juga menimpa tiga orang yang tersesat di pedalaman Australia pada Desember 2019. Mobil mereka terperangkap lumpur di tepi sungai, memaksa mereka untuk berjalan terpisah mencari pertolongan. Dua orang berhasil diselamatkan, sementara satu lainnya, Claire Hockridge, ditemukan meninggal dunia.
Kejadian-kejadian ini mengungkap lima kesalahan fatal yang sering dilakukan para pelancong, dan berpotensi menyebabkan mereka terdampar atau bahkan kehilangan nyawa.
1. Minim Riset dan Persiapan Medan
Banyak wisatawan menganggap enteng destinasi wisata yang mereka tuju. Mereka mungkin tak menyadari bahaya yang mengintai, seperti ombak besar, minimnya sumber air tawar, atau keberadaan hewan buas. Tinotenda Pudu, misalnya, hampir kehilangan nyawa setelah berjalan tanpa arah sejauh 23 km di taman margasatwa.
Kurangnya riset tentang medan juga berisiko. Memahami kondisi geografis, iklim, dan potensi bahaya di lokasi tujuan sangat penting. Kemampuan bertahan hidup dasar, seperti mencari sumber air dan makanan, juga perlu dipertimbangkan.
2. Tidak Memberitahu Siapa Pun tentang Tujuan Perjalanan
Berpetualang sendirian tanpa memberi tahu siapa pun tentang rencana perjalanan merupakan tindakan ceroboh. Jika terjadi sesuatu, tak ada yang tahu keberadaan dan lokasi Anda. Ini akan mempersulit upaya pencarian dan penyelamatan. Kejadian pada Tinotenda Pudu menjadi contoh nyata betapa pentingnya memberitahu orang lain tentang rencana perjalanan Anda.
Menginformasikan rencana perjalanan juga membantu tim penyelamat untuk mempersempit lokasi pencarian dan menghemat waktu berharga. Berbagi informasi tentang rute, waktu keberangkatan dan kepulangan, dan kontak darurat sangat krusial.
3. Bekal dan Peralatan Tidak Memadai
Persiapan logistik yang kurang matang juga berisiko. Membawa bekal dan peralatan yang minim dapat membahayakan keselamatan. Tinotenda Pudu hanya membawa sedikit air dan camilan. Ia kekurangan perlengkapan penting seperti penjernih air, alat komunikasi, pisau, atau senter.
Sebaliknya, Jose Salvador Alvarenga bertahan hidup berkat keahliannya membaca tanda alam dan memanfaatkan sumber daya sekitar. Namun, ini bukan cara yang bisa diandalkan. Membawa perlengkapan lengkap, termasuk alat komunikasi darurat, sangatlah penting.
4. Meremehkan Alam dan Mengandalkan Feeling
Alam liar tak bisa diprediksi. Bergantung pada insting dan improvisasi semata merupakan tindakan yang sangat berisiko. Ketiga pendaki yang tersesat di Australia, misalnya, meremehkan kondisi cuaca ekstrem dan keterbatasan air di pedalaman.
Mereka juga tidak membawa alat komunikasi darurat yang memadai. Ponsel biasa tak berfungsi di daerah terpencil. Membawa telepon satelit atau EPIRB (Emergency Position Indicating Radio Beacon) sangat disarankan untuk mempercepat proses pencarian dan penyelamatan.
5. Tidak Siap Mental Menghadapi Krisis
Kemampuan mental menghadapi tekanan dan krisis sangat penting. Panik dan kehilangan arah dapat memperburuk situasi. Para pelancong yang tersesat di Australia hampir menyerah sebelum ditemukan.
Berbeda dengan Tinotenda Pudu yang menunjukkan mentalitas bertahan hidup yang kuat. Ia mampu menemukan sumber air dan makanan, meskipun hanya seorang anak kecil. Membangun mental yang tangguh dan kemampuan bertahan hidup akan meningkatkan peluang untuk selamat dalam situasi darurat.
Kesimpulannya, pengalaman buruk saat traveling dapat dihindari dengan persiapan yang matang. Riset yang mendalam, pemberitahuan rencana perjalanan, bekal dan peralatan yang memadai, penghormatan terhadap alam, dan mental yang kuat adalah kunci utama untuk keselamatan dan perjalanan yang menyenangkan. Jangan anggap remeh persiapan sebelum menjelajah, karena keselamatan Anda bergantung padanya.





