Wanita 27 Tahun Gagal Buang Air Kecil: Ginjal Terancam?

Anna Gray (27), warga Bath, Inggris, menghadapi tantangan hidup yang tak biasa selama enam tahun terakhir. Ia kesulitan melakukan hal sederhana yang bagi banyak orang dianggap biasa: buang air kecil.

Sindrom Fowler: Penyebab Gangguan Buang Air Kecil Anna

Anna didiagnosis mengidap Sindrom Fowler, suatu kondisi langka yang belum sepenuhnya dipahami. Sindrom ini menyebabkan sfingter uretra, otot yang mengontrol aliran urine, gagal untuk rileks.

Bacaan Lainnya

Akibatnya, Anna hampir mustahil untuk buang air kecil secara normal. Kondisi ini dapat muncul tiba-tiba tanpa sebab yang jelas, seperti yang dialami Anna, atau muncul setelah operasi atau persalinan.

Gejala Awal dan Diagnosis yang Mengejutkan

Gejala pertama muncul pada November 2018, ketika Anna dirawat karena infeksi ginjal parah akibat beberapa hari menahan buang air kecil.

Awalnya dianggap kasus terisolasi, namun masalah ini terus berlanjut. Minggu-minggu setelah perawatan, Anna masih kesulitan buang air kecil, hingga dokter terpaksa mengeluarkan hampir dua liter urine dari kandung kemihnya.

Sebuah pemeriksaan lebih lanjut beberapa minggu kemudian mengungkap fakta mengejutkan: kandung kemih Anna sama sekali tidak menunjukkan aktivitas. Dokter menyatakan tak ada lagi yang bisa dilakukan untuk mengembalikan kemampuannya buang air kecil secara alami.

Hidup dengan Kateter Suprapubik

Infeksi berulang memaksa Anna untuk menggunakan kateter suprapubik. Perangkat ini berupa tabung yang dimasukkan ke kandung kemih melalui perut, memungkinkan urine mengalir ke kantung eksternal.

Kini, Anna harus mengosongkan kantung tersebut beberapa kali sehari. Ia harus menjalani prosedur kateterisasi mandiri hingga lima kali sehari untuk mengosongkan kandung kemih.

Menerima Kondisi dan Mencari Dukungan

Menyesuaikan diri dengan kondisi seumur hidup ini berat bagi Anna. Ia bahkan harus menjalani perawatan kesehatan mental tahun lalu.

Namun, Anna perlahan-lahan menerima kondisinya dan kini sudah terbiasa. Ia menemukan kekuatan untuk menjalani hidupnya dengan Sindrom Fowler.

Kisah Anna menyoroti pentingnya kesadaran akan kondisi medis langka seperti Sindrom Fowler. Dukungan keluarga, teman, dan profesional medis sangat penting bagi individu yang menghadapi tantangan serupa. Harapannya, penelitian lebih lanjut dapat membantu mengungkap penyebab dan pengobatan Sindrom Fowler, serta meningkatkan kualitas hidup para penderitanya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *