Direktur Utama Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, Rachim Dinata Marsidi, mengungkap modus operasi dokter residen Priguna Anugerah Pratama (PAP) dalam kasus pemerkosaan terhadap pendamping pasien. Pelaku menggunakan obat bius untuk melumpuhkan korban sebelum melancarkan aksinya.
Modus Operandi Dokter Residen: Mengumpulkan Sisa Obat Bius
Pihak RSHS menegaskan telah menerapkan standar operasional farmasi yang ketat. Obat bius yang dikeluarkan harus dikembalikan dengan jumlah yang sama.
Namun, PAP diduga mengumpulkan sisa obat bius dari pasien lain yang telah diberikan obat tersebut. Ia mengambil sisa obat bius, bahkan dalam jumlah sedikit, untuk kemudian digunakan dalam aksinya.
Menurut Rachim, pengawasan selama ini berjalan baik. Kejadian ini diduga murni tindakan kriminal yang dilakukan di luar pengawasan rumah sakit.
Kronologi Kejadian dan Perencanaan Pelaku
Insiden tersebut bermula pada 17 Maret 2024. Seorang pasien membutuhkan darah, dan PAP mendekati anak pasien, bukannya mengambil darah dari bank darah rumah sakit.
Pada 18 Maret 2024 pukul 01.00 dini hari, PAP membawa korban ke ruang kosong yang sedang direnovasi. Di sanalah ia melakukan pemerkosaan.
Rachim menduga aksi tersebut telah direncanakan. Modus pelaku yang meminta darah kepada anak pasien dinilai mencurigakan.
Prosedur Pengambilan Darah yang Biasa Dilakukan
Biasanya, pengambilan darah dilakukan terlebih dahulu di bank darah rumah sakit. Jika stok kosong, barulah pihak rumah sakit meminta keluarga pasien untuk mendonorkan darah.
Permintaan PAP untuk mengambil darah dari anak pasien secara langsung dianggap menyimpang dari prosedur standar. Hal ini menguatkan dugaan perencanaan pelaku.
Pelajaran dan Langkah Antisipasi RSHS
Kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi RSHS dalam meningkatkan pengawasan dan keamanan. RSHS akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap prosedur dan sistem keamanan.
Selain itu, RSHS berencana untuk memperketat pengawasan obat-obatan, khususnya obat bius. Pemeriksaan rutin dan pelatihan tambahan bagi petugas medis akan ditingkatkan.
Kasus ini menyoroti pentingnya pengawasan yang ketat di lingkungan rumah sakit. Langkah preventif yang lebih komprehensif diperlukan untuk mencegah kejadian serupa terulang di masa mendatang.
Kejadian ini diharapkan menjadi pembelajaran bagi semua rumah sakit untuk meningkatkan sistem keamanan dan pengawasan, terutama terkait akses dan penggunaan obat-obatan terkontrol. Prioritas utama adalah keselamatan dan keamanan pasien serta tenaga medis.





