Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dan Gubernur Bengkulu, Helmi Hasan, baru-baru ini mengusulkan pendekatan berbasis militer untuk mengatasi kenakalan remaja. Usulan ini menuai kontroversi dan kritik luas dari berbagai kalangan, termasuk para ahli psikologi anak dan remaja.
Mereka berpendapat bahwa pendekatan tersebut, yang ditujukan pada remaja terlibat narkoba, tawuran, bolos sekolah, dan pergaulan bebas, merupakan solusi yang keliru dan berpotensi menimbulkan dampak buruk jangka panjang.
Kritik Terhadap Pendekatan Militerisme dalam Penanganan Kenakalan Remaja
Banyak pihak menilai pendekatan ala militer justru kontraproduktif dan tidak menyelesaikan akar masalah. Pakar psikiatri anak dan remaja, Prof. Tjin Wiguna, menegaskan bahwa setiap kasus kenakalan remaja memiliki akar permasalahan yang berbeda-beda.
Menurutnya, pendekatan yang represif hanya akan menciptakan kepatuhan semu karena rasa takut, bukan perubahan perilaku yang berkelanjutan. Setelah meninggalkan lingkungan yang “terkontrol”, remaja tersebut berpotensi kembali pada perilaku menyimpang.
Menempatkan remaja di barak militer mungkin meningkatkan disiplin dalam jangka pendek, namun hal tersebut tidak menjamin perubahan perilaku jangka panjang. Ini dikarenakan pendekatan tersebut tidak menyentuh akar masalah perilaku menyimpang pada remaja.
Akar Permasalahan Kenakalan Remaja: Lebih dari Sekedar Disiplin
Penelitian di RSCM menunjukkan bahwa salah satu faktor utama kenakalan remaja adalah kesepian akibat kurangnya perhatian orang tua. Remaja yang merasa kesepian cenderung mencari pelarian melalui hal-hal yang tidak tepat.
Selain kurangnya perhatian orang tua, faktor-faktor lain seperti konflik dengan teman sebaya, bullying, dan pola asuh yang tidak konsisten juga berperan penting. Pendekatan represif justru dapat memperparah situasi ini.
Prof. Tjin menekankan kompleksitas masalah ini. Menangani kenakalan remaja membutuhkan pendekatan yang holistik dan menyeluruh, bukan hanya fokus pada disiplin semata.
Pendekatan yang Lebih Efektif: Terapi dan Dukungan Holistik
Studi internasional menunjukkan efektivitas terapi psikologis, seperti terapi perilaku kognitif (CBT), dalam mengatasi perilaku menyimpang pada remaja. CBT terbukti efektif, terutama jika dikombinasikan dengan intervensi berbasis keluarga.
Keterlibatan orang tua dan strategi pengasuhan positif juga sangat penting dalam proses rehabilitasi. Pendekatan multidisipliner, yang melibatkan berbagai ahli seperti psikolog, psikiater, guru, dan orang tua, dinilai lebih efektif.
American Academy of Child and Adolescent Psychiatry merekomendasikan pendekatan multidisipliner untuk penanganan kasus kenakalan remaja. Pendekatan ini membutuhkan kerjasama berbagai pihak yang terkait langsung dengan kehidupan remaja.
Pendidikan karakter dan budi pekerti juga sangat penting untuk membantu remaja membangun kontrol diri dan membedakan perilaku baik dan buruk. Remaja perlu dibimbing untuk memahami dampak perilaku mereka dan membuat pilihan yang lebih baik.
Anak-anak dengan perilaku menyimpang sebaiknya dirujuk ke profesional kesehatan mental, seperti psikolog atau psikiater, untuk mendapatkan penanganan yang tepat dan sesuai kebutuhan mereka. Pendekatan yang ideal adalah pemahaman mendalam akan kondisi psikososial anak.
Kesimpulannya, mengatasi kenakalan remaja memerlukan pendekatan yang komprehensif dan berfokus pada akar permasalahan, bukan hanya pada tindakan represif. Kolaborasi antara keluarga, sekolah, dan tenaga profesional kesehatan mental sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang suportif dan membantu remaja berkembang secara positif.





