Skoliosis, kelainan tulang belakang dengan lengkungan abnormal berbentuk ‘C’ atau ‘S’, sering kali terdeteksi sejak masa kanak-kanak. Namun, kondisi ini juga bisa muncul di usia dewasa, disebabkan oleh proses degeneratif atau akibat skoliosis yang tak terdiagnosis dan tertangani sejak dini.
Penanganan skoliosis pada dewasa bergantung pada tingkat keparahan kelengkungan. Konsultasi dengan dokter spesialis ortopedi sangat penting untuk menentukan metode pengobatan yang tepat.
Penanganan Skoliosis pada Dewasa Berdasarkan Tingkat Keparahan
Dokter Spesialis Ortopedi Konsultan Tulang Belakang di Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr. Starifulkani Arif, Sp.OT (K), FICS, menjelaskan penanganan skoliosis pada dewasa berdasarkan tingkat kelengkungan tulang belakang.
Pada kasus skoliosis ringan (dibawah 25 derajat), observasi menjadi langkah utama. Pemeriksaan rutin enam bulan sekali dan rontgen tahunan dilakukan untuk memantau perkembangan kelengkungan.
Skoliosis sedang (25-45 derajat) ditangani dengan alat penyangga (brace) untuk mencegah perburukan dan meringankan nyeri. Terapi fisik juga direkomendasikan untuk memperkuat otot punggung, meningkatkan fleksibilitas, dan memperbaiki postur tubuh.
Terapi fisik meliputi peregangan, latihan penguatan otot inti, dan olahraga ringan seperti berenang. Ini membantu memperbaiki kondisi dan mengurangi rasa tidak nyaman.
Untuk skoliosis berat (lebih dari 45 derajat), operasi spinal fusion menjadi pilihan. Prosedur ini menyatukan tulang belakang agar menjadi satu kesatuan yang kokoh, sekaligus mengurangi tekanan pada saraf.
Perbedaan Penanganan Skoliosis pada Anak dan Dewasa
Penanganan skoliosis pada anak berbeda dengan dewasa. Skoliosis ringan pada anak biasanya hanya perlu pemantauan rutin tanpa perlu brace atau operasi.
Penggunaan brace pada anak dengan skoliosis sedang bertujuan mencegah keparahan kelengkungan, mengingat tulang belakang anak masih dalam masa pertumbuhan.
Jenis-Jenis Skoliosis dan Gejalanya
Dokter Spesialis Ortopedi Konsultan Tulang Belakang di Mayapada Hospital Bandung, dr. Abdul Kadir Hadar, Sp.OT (K), menjelaskan berbagai jenis skoliosis berdasarkan penyebabnya.
Skoliosis idiopatik, yang paling umum, penyebabnya tak diketahui pasti, meskipun faktor genetik diduga berperan. Skoliosis kongenital terjadi akibat kelainan sejak dalam kandungan.
Skoliosis neuromuskular disebabkan gangguan saraf dan otot pendukung tulang belakang, seperti pada penderita cerebral palsy atau spina bifida. Skoliosis sindromik dikaitkan dengan kelainan genetik tertentu.
Gejala skoliosis pada dewasa meliputi nyeri punggung, tonjolan otot atau tulang akibat rotasi tulang belakang, garis pinggang tidak sejajar, dan perbedaan tinggi pinggul.
Pada kasus parah, skoliosis dapat menyebabkan kesulitan bernapas dan cepat merasa kenyang karena perubahan volume rongga dada dan perut. Konsultasi dengan dokter spesialis ortopedi sangat penting untuk penanganan yang tepat.
Mayapada Hospital menyediakan layanan Orthopedic Center dengan perawatan komprehensif dan berstandar internasional untuk berbagai kasus tulang, sendi, dan otot. Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui aplikasi MyCare.
Aplikasi MyCare juga menyediakan fitur Personal Health untuk memantau kesehatan dan kebugaran, serta menawarkan reward point sebagai insentif bagi pengguna baru.
Kesimpulannya, penanganan skoliosis pada dewasa memerlukan pendekatan yang terindividualisasi berdasarkan tingkat keparahan dan jenis skoliosis. Konsultasi dan perawatan yang tepat dari dokter spesialis ortopedi sangat penting untuk mendapatkan hasil yang optimal dan meningkatkan kualitas hidup penderita.





