Lari maraton semakin populer di Indonesia, menarik banyak peserta dalam berbagai event, termasuk Surabaya Medic Air Run 2025. Namun, banyak pelari mengalami cedera setelah berlari jarak jauh.
Pemahaman jenis cedera dan penanganan yang tepat sangat penting untuk pemulihan yang optimal. Artikel ini akan membahas jenis cedera umum, penanganan awal, dan layanan pemulihan yang tersedia.
Jenis Cedera Umum pada Pelari Maraton
Berbagai jenis cedera dapat dialami pelari maraton. Cedera pada paha, lutut, dan betis merupakan cedera yang umum terjadi.
Otot hamstring yang bekerja keras dapat menyebabkan cedera paha. Benturan berulang bisa memicu cedera lutut. Kontraksi otot berlebihan mengakibatkan cedera betis.
Selain itu, sprain akibat gerakan sendi yang berlebihan, strain karena tarikan otot atau tendon yang berlebihan, patah tulang, dan dislokasi juga dapat terjadi.
Penanganan Awal Cedera: Metode PRICE
Metode PRICE (Protection, Rest, Ice, Compression, Elevation) direkomendasikan sebagai penanganan awal cedera ringan.
Lindungi area cedera dengan bidai atau penyangga (Protection). Istirahatkan area yang cedera (Rest).
Kompres area cedera dengan es selama 15-20 menit setiap 2-3 jam (Ice). Kompres dengan perban elastis untuk mengurangi pembengkakan (Compression).
Angkat bagian tubuh yang cedera lebih tinggi dari bagian tubuh lainnya (Elevation). Metode ini efektif untuk 24-36 jam pertama setelah cedera.
Konsultasikan dengan dokter jika nyeri semakin parah, terdapat pembengkakan berlebihan, muncul benjolan, sendi berbunyi, kesulitan bergerak, kehilangan keseimbangan, kesulitan bernapas, atau demam.
Opsi Penanganan Cedera: Non-Operatif dan Operatif
Penanganan non-operatif meliputi pemberian obat pereda nyeri dan anti-inflamasi.
Penggunaan elastic bandage dan light brace untuk imobilisasi juga dapat dilakukan. Fisioterapi dan rehabilitasi seperti sport massage, stimulasi listrik, ultrasound, terapi gelombang kejut, laser, dan latihan penguatan otot juga membantu pemulihan.
Beberapa cedera memerlukan tindakan operatif, seperti Arthroscopy. Arthroscopy merupakan teknik minimal invasif untuk mendiagnosis dan menangani masalah dalam sendi.
Teknik ini meminimalisir nyeri, risiko infeksi, dan mempercepat pemulihan. Keputusan untuk melakukan operasi didasarkan pada evaluasi dan diagnosis menyeluruh.
Mayapada Hospital Surabaya menyediakan layanan Medical Check Up (MCU) Runner, pemeriksaan VO2 Max, dan EKG untuk para pelari.
Sports Injury Treatment and Performance Center (SITPEC) Mayapada Hospital menawarkan layanan cedera olahraga komprehensif, termasuk pencegahan, screening, peningkatan performa, penanganan, dan pemulihan.
SITPEC didukung oleh tim dokter multidisiplin dan fasilitas lengkap seperti gym, VO2 Max, dan Body Composition Analysis. Konsultasi dengan dokter SITPEC dapat dijadwalkan melalui aplikasi MyCare.
Aplikasi MyCare juga menyediakan artikel kesehatan dan tips olahraga lari, serta fitur untuk memantau aktivitas fisik harian.
Unduh aplikasi MyCare untuk mendapatkan informasi lebih lanjut dan akses layanan kesehatan Mayapada Hospital.
Dengan penanganan yang tepat dan akses ke layanan medis yang komprehensif, para pelari dapat meminimalisir risiko cedera dan memaksimalkan pemulihan.





