Nyeri Setelah Maraton? Dokter Ungkap Penyebab & Cara Pulih Cepat

Nyeri Setelah Maraton? Dokter Ungkap Penyebab & Cara Pulih Cepat
Nyeri Setelah Maraton? Dokter Ungkap Penyebab & Cara Pulih Cepat

Lari maraton merupakan pencapaian luar biasa bagi banyak orang. Namun, cedera kerap menjadi bayang-bayang yang menghantui para pelari, mulai dari nyeri otot hingga cedera serius pada persendian.

Kelelahan ekstrem setelah berlari jarak jauh menjadi penyebab utama cedera. Teknik lari yang salah, perlengkapan yang kurang tepat, dan riwayat cedera sebelumnya juga meningkatkan risiko.

Bacaan Lainnya

Jenis Cedera Umum Pasca Maraton

Beberapa cedera sering dialami pelari maraton. Ankle sprain (keseleo pergelangan kaki) merupakan cedera yang umum dan seringkali diremehkan.

Runner’s Knee (Patellofemoral Pain Syndrome/PFPS) menyebabkan nyeri di bagian depan lutut. Kondisi ini sering disamakan dengan Jumper’s Knee, namun terjadi di area yang berbeda.

Iliotibial Band Syndrome (ITBS) menimbulkan nyeri di sisi luar lutut. Peradangan pada jaringan iliotibial band, yang membentang dari pinggul hingga lutut, menjadi penyebabnya.

Plantar Fasciitis adalah peradangan pada jaringan di bawah telapak kaki. Nyeri tajam di bagian bawah tumit, terutama saat melangkah pagi hari, menjadi ciri khasnya.

Meniscus injury, cedera pada bantalan lutut, juga dapat terjadi. Kelemahan otot tungkai dapat menyebabkan beban berlebih pada lutut, meningkatkan risiko kerusakan meniscus.

Penanganan Cedera Setelah Maraton

Metode RICE (Rest, Ice, Compress, Elevate) efektif untuk penanganan awal cedera dalam 24-36 jam pertama.

Istirahatkan bagian yang cedera, kompres dengan es, balut dengan tekanan ringan, dan tinggikan posisi anggota tubuh yang cedera.

Konsultasikan dengan dokter jika cedera semakin parah. Gejala seperti pembengkakan yang signifikan, nyeri hebat, munculnya benjolan, perubahan bentuk sendi, bunyi saat digerakkan, kelemahan tubuh, hingga demam memerlukan penanganan medis segera.

Penanganan cedera dapat dilakukan secara non-operatif atau operatif. Penanganan non-operatif meliputi pemberian obat pereda nyeri, pembatasan gerak, dan rehabilitasi.

Artroskopi, metode minimal invasif, digunakan dalam penanganan operatif. Teknik ini memungkinkan diagnosis dan penanganan masalah sendi melalui sayatan kecil.

Pencegahan dan Pemulihan Cedera

Mayapada Hospital Surabaya, sebagai partner Surabaya Medic Air Run 2025, menyediakan layanan pendukung bagi para pelari.

Layanan ini meliputi pemeriksaan EKG, Medical Check Up (MCU), dan pengukuran VO2 Max untuk memantau kebugaran fisik.

Sport Injury Treatment & Performance Center (SITPEC) Mayapada Hospital menawarkan layanan komprehensif untuk meningkatkan performa dan pemulihan cedera.

SITPEC dilengkapi dengan fasilitas modern, seperti gym, pengukuran VO2 max, dan Body Composition Analysis.

Aplikasi MyCare memudahkan konsultasi dengan dokter kapan saja dan di mana saja. Aplikasi ini juga menyediakan artikel kesehatan dan tips seputar olahraga lari.

Dengan berbagai fasilitas dan layanan yang tersedia, para pelari dapat meminimalisir risiko cedera dan memaksimalkan pemulihan pasca maraton. Persiapan yang matang dan konsultasi rutin dengan dokter spesialis olahraga sangat penting untuk mencegah cedera dan memastikan pemulihan yang optimal.

Semoga informasi ini bermanfaat bagi para pelari dan membantu mereka dalam mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan maraton selanjutnya dengan lebih baik dan lebih aman.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *