Minum susu dua liter sehari untuk menambah tinggi badan anak? Klaim tersebut belakangan ramai beredar. Namun, seorang pakar kesehatan anak memberikan pandangan berbeda. Ia menekankan bahwa kebiasaan tersebut tidak hanya tidak realistis, tetapi juga berisiko bagi kesehatan si kecil. Mari kita telusuri lebih lanjut.
Prof. dr. H. Dida Akhmad Gurnida, SpA, Subsp.NPM, pakar penyakit metabolik anak dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), mengungkapkan kekhawatirannya terhadap tren tersebut. Menurutnya, jumlah susu yang dikonsumsi anak harus disesuaikan dengan kebutuhan dan usia mereka.
Bahaya Konsumsi Susu Berlebihan pada Anak
Mengonsumsi dua liter susu per hari jelas bukan praktik yang aman dan realistis bagi anak-anak. Kapasitas lambung anak usia sekolah bervariasi, berkisar antara 500 hingga 1000 mililiter.
Jika anak mengonsumsi susu sebanyak dua liter, maka ruang untuk asupan makanan lain akan sangat terbatas. Hal ini berpotensi menimbulkan masalah gizi.
Selain itu, konsumsi susu yang berlebihan dapat mengganggu penyerapan nutrisi lain dan bahkan memicu anemia. Kandungan nutrisi penting dalam susu memang bermanfaat, namun kelebihannya justru merugikan.
Rekomendasi Asupan Susu Sesuai Usia Anak
IDAI sendiri merekomendasikan asupan susu yang berbeda-beda sesuai usia anak. Berikut rinciannya:
- Bayi (0-6 bulan): ASI eksklusif tetap menjadi pilihan terbaik. Jumlahnya bervariasi sesuai kebutuhan bayi.
- Anak (1-2 tahun): 2-3 gelas susu pertumbuhan per hari (sekitar 400-600 ml) sebagai pelengkap nutrisi, terutama setelah mulai MPASI.
- Anak (2-5 tahun): 2-2,5 gelas susu per hari (sekitar 500 ml).
- Anak (5-8 tahun): 2,5 gelas susu per hari.
- Anak (9-12 tahun): 3 gelas susu per hari.
Kelebihan susu sapi dapat menyebabkan masalah kesehatan, termasuk konstipasi, obesitas, dan bahkan kekurangan gizi karena asupan makanan lain berkurang.
Mengingat fakta-fakta ini, jelas bahwa dua liter susu per hari bukanlah solusi untuk meningkatkan tinggi badan anak.
Faktor-Faktor Penentu Tinggi Badan Anak
Pertumbuhan tinggi badan anak dipengaruhi oleh berbagai faktor, bukan hanya konsumsi susu.
Pola makan seimbang dan bergizi sangat penting. Anak membutuhkan protein, kalsium, dan vitamin D dari berbagai sumber makanan, seperti telur, ayam, sayuran, dan kacang-kacangan.
Protein hewani, khususnya, berperan penting dalam merangsang produksi IGF-1 (Insulin-like Growth Factor 1), hormon yang vital dalam pertumbuhan tulang dan otot.
Genetika juga memainkan peran besar, berkisar 60-80% menurut beberapa penelitian. Gen HMGA2, misalnya, mempengaruhi tinggi badan. Perubahan genetik pada gen ini dapat memengaruhi tinggi badan akhir seseorang.
Selain nutrisi dan genetika, faktor lingkungan dan kesehatan juga turut mempengaruhi pertumbuhan. Oleh karena itu, penting untuk menjaga kesehatan anak secara menyeluruh.
Perkiraan tinggi badan anak saat dewasa dapat diprediksi menggunakan rumus Tinggi Potensi Genetik (TPG), yang memperhitungkan tinggi badan orang tua:
- TPG anak laki-laki = ((TB ibu (cm) + 13 cm) + TB ayah (cm))/2 ± 8,5 cm
- TPG anak perempuan = ((TB ayah (cm) – 13 cm) + TB ibu (cm))/2 ± 8,5 cm
Kesimpulannya, fokus pada pola makan sehat dan seimbang, serta menjaga kesehatan secara keseluruhan, jauh lebih efektif daripada mengonsumsi susu secara berlebihan untuk meningkatkan tinggi badan anak. Konsultasikan selalu dengan dokter atau ahli gizi untuk mendapatkan panduan yang tepat mengenai nutrisi anak.





