Jalan Cepat, Jantung Sehat: Studi Terbaru Ungkap Manfaatnya
Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal *Heart* pada Agustus 2024 mengungkapkan hubungan antara kecepatan berjalan dan risiko kelainan jantung.
Penelitian ini menunjukkan bahwa berjalan lebih cepat dapat secara signifikan mengurangi risiko berbagai masalah jantung.
Kecepatan Berjalan dan Risiko Kelainan Jantung
Studi tersebut melibatkan analisis data kesehatan dari partisipan UK Biobank.
Para peserta diminta melaporkan kecepatan berjalan mereka, yang dikategorikan menjadi lambat, sedang, dan cepat.
Fibrilasi Atrium, Bradiaritmia, dan Aritmia Ventrikel
Hasilnya menunjukkan, mereka yang berjalan dengan kecepatan sedang atau cepat memiliki risiko lebih rendah terhadap berbagai kelainan jantung.
Kelainan tersebut meliputi fibrilasi atrium (detak jantung tidak teratur), bradiaritmia (detak jantung sangat lambat), dan aritmia ventrikel (irama jantung abnormal dari bilik bawah jantung).
Pengurangan Risiko hingga 43 Persen
Secara spesifik, risiko kelainan jantung berkurang hingga 35 persen untuk mereka yang berjalan dengan kecepatan sedang.
Sementara itu, mereka yang berjalan cepat mengalami pengurangan risiko hingga 43 persen.
Manfaat untuk Semua Kalangan
Penulis senior studi, Dr. Jill Pell dari Glasgow University, menekankan kemudahan aksesibilitas aktivitas ini.
Berjalan kaki, menurutnya, merupakan metode yang terjangkau dan efektif untuk meningkatkan kesehatan jantung karena tidak membutuhkan biaya atau peralatan khusus.
Metode dan Temuan Studi
Penelitian ini menganalisis data kecepatan berjalan dari lebih dari 420.000 orang.
Data tambahan dari akselerometer juga digunakan pada hampir 82.000 partisipan untuk validasi data.
Durasi dan Kecepatan Jalan Kaki yang Dianjurkan
Studi ini menyarankan berjalan dengan kecepatan rata-rata 3-4 mil per jam selama 5-15 menit per hari.
Durasi dan kecepatan tersebut sudah cukup untuk memberikan manfaat dalam mengurangi risiko kelainan jantung.
Hasil yang Lebih Signifikan pada Wanita Muda
Hasil penelitian menunjukkan efek yang lebih besar pada partisipan di bawah usia 60 tahun, khususnya wanita.
Hal ini menarik karena meskipun wanita memiliki risiko fibrilasi atrium lebih rendah daripada pria, mereka berisiko lebih tinggi mengalami serangan jantung dan stroke jika terkena kondisi tersebut.
Keterbatasan dan Studi Selanjutnya
Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan, termasuk kemungkinan perbedaan kecepatan berjalan pada individu yang sudah memiliki penyakit jantung.
Dr. Pell menyarankan diperlukan studi intervensi untuk mengkonfirmasi temuan ini, dengan membandingkan kelompok yang meningkatkan kecepatan berjalan dengan kelompok kontrol.
Kesimpulannya, berjalan kaki dengan kecepatan sedang hingga cepat menawarkan cara sederhana namun efektif untuk menjaga kesehatan jantung. Temuan ini memberikan dorongan bagi kita untuk memasukkan aktivitas fisik sederhana ini ke dalam rutinitas harian kita demi kesehatan jantung yang lebih baik. Penting untuk berkonsultasi dengan dokter sebelum memulai program olahraga baru, terutama bagi mereka yang memiliki kondisi kesehatan yang sudah ada sebelumnya.





