Konsultan Medik Palembang Skors: Tendang Testis Dokter Muda!

Kasus kekerasan seksual di lingkungan kesehatan kembali mengemuka. Setelah kasus di RSUP Hasan Sadikin, kini publik dihebohkan dengan laporan kekerasan yang dialami seorang dokter residen anestesi di RSUP Muhammad Hoesin Palembang.

Residen Anestesi Unsri Jadi Korban Kekerasan oleh Konsulen

Seorang dokter residen anestesi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (Unsri) menjadi korban kekerasan oleh konsulennya sendiri. Insiden ini dilaporkan terjadi akhir pekan lalu saat keduanya melakukan visit pasien.

Bacaan Lainnya

Korban mengalami cedera serius pada area genital akibat ditendang oleh konsulen. Ia bahkan harus menjalani perawatan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) karena mengalami perdarahan dan hematoma.

Kronologi Kejadian Masih Diselidiki

Direktur Kesehatan Lanjutan, Azhar Jaya, telah mendengar laporan tersebut dan tengah menyelidiki kronologi kejadian. Motif di balik tindakan kekerasan ini masih belum diketahui.

Pihak berwenang berupaya mengungkap detail peristiwa yang menyebabkan konsulen tersebut melakukan tindakan kekerasan terhadap residennya. Informasi awal masih terbatas dan masih dalam proses investigasi.

Sanksi Tegas Ditetapkan

Sebagai tindakan awal, konsulen tersebut telah diskors selama satu bulan. Pemeriksaan lebih lanjut akan menentukan sanksi selanjutnya.

Azhar Jaya belum bisa memastikan apakah penyetopan prodi FK anestesi Unsri akan diberlakukan. Namun, hukuman keras akan diberikan jika terbukti bersalah.

Kasus Kekerasan Seksual di Lingkungan Kesehatan Meningkat?

Kasus ini menambah daftar panjang kasus kekerasan dan pelecehan seksual di lingkungan rumah sakit. Sebelumnya, publik telah dihebohkan dengan kasus pemerkosaan di RSUP Hasan Sadikin.

Kasus serupa juga dilaporkan terjadi di berbagai daerah, seperti pelecehan pasien oleh dokter obgyn di Garut dan perekaman diam-diam mahasiswi FKG UI. Hal ini memicu kekhawatiran akan peningkatan kasus serupa yang selama ini mungkin disembunyikan.

Hematoma pada testis korban menunjukkan adanya trauma serius. Kondisi ini menuntut penyelidikan menyeluruh untuk memastikan keadilan bagi korban dan pencegahan kejadian serupa di masa depan.

Kasus ini menjadi pengingat pentingnya menciptakan lingkungan kerja yang aman dan bebas dari kekerasan serta pelecehan di lingkungan kesehatan. Perlindungan bagi para residen dan tenaga kesehatan lainnya harus menjadi prioritas utama.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *