Tragedi Longsor Cirebon: 14 Penambang Tewas, Metode Salah?

Tragedi Longsor Cirebon: 14 Penambang Tewas, Metode Salah?
Tragedi Longsor Cirebon: 14 Penambang Tewas, Metode Salah?

Tragedi Longsor Gunung Kuda Cirebon: 14 Penambang Tewas Akibat Metode Penambangan yang Salah

Bencana longsor yang terjadi di area tambang bukit batu Gunung Kuda, Kabupaten Cirebon, pada Jumat, 30 Mei 2025, telah merenggut 14 nyawa penambang. Kejadian ini menyoroti pentingnya penerapan standar keselamatan yang ketat dalam industri pertambangan. Kesalahan prosedur penambangan diduga menjadi penyebab utama musibah ini.

Bacaan Lainnya

Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Barat telah menyatakan bahwa metode penambangan yang digunakan di Gunung Kuda menyimpang dari standar keselamatan. Hal ini mengakibatkan longsor yang fatal.

Penyebab Longsor: Metode Penambangan yang Salah dan Pengabaian Peringatan

Kepala Dinas ESDM Jawa Barat, Bambang Tirto Yuliono, menjelaskan bahwa penambangan seharusnya dilakukan secara terasering dari atas ke bawah. Namun, praktik yang dilakukan di Gunung Kuda justru sebaliknya, meningkatkan risiko longsor.

Bambang menegaskan bahwa pihaknya telah memberikan peringatan berkali-kali kepada pengelola tambang. Namun, peringatan tersebut diabaikan, hingga akhirnya bencana terjadi.

Selain ESDM Jawa Barat, pihak kepolisian juga ikut memberikan imbauan. Sayangnya, pengelola tambang tetap ngotot menjalankan operasi dengan metode yang berbahaya dan tidak aman.

Kondisi geologis Gunung Kuda yang rawan gerakan tanah semakin memperparah situasi. Metode penambangan yang salah telah meningkatkan risiko bencana secara signifikan.

Korban Jiwa dan Identifikasi Para Penambang

Keempat belas penambang yang meninggal dunia berasal dari berbagai daerah. Berikut daftar nama korban berdasarkan asesmen BPBD Kabupaten Cirebon:

  1. Andri (41) – Desa Padabeunghar, Kuningan
  2. Sukadi (48) – Desa Buntet, Cirebon
  3. Sanuri (47) – Desa Semplo, Cirebon
  4. Sukendra – Desa Girinata, Cirebon
  5. Dedi Hirmawan (45) – Desa Cimenyan, Bandung
  6. Sarwah (36) – Kelurahan Kenanga, Cirebon
  7. Rusjaya (48) – Desa Beberan, Cirebon
  8. Rino Ahmadi (28) – Desa Cikalahang, Cirebon
  9. Ikad Budiarso (47) – Desa Budur, Cirebon
  10. Toni (46) – Desa Kepuh, Cirebon
  11. Wastoni Hamzah (25) – Desa Krangkeng, Indramayu
  12. Jamaludin (49) – Desa Krangkeng, Indramayu
  13. Korban ke-13 – Data masih dalam proses asesmen
  14. Korban ke-14 – Data masih dalam proses asesmen

Badan Geologi sebelumnya telah menetapkan wilayah bukit batu Gunung Kuda sebagai zona rawan gerakan tanah. Peringatan ini seharusnya diindahkan.

Tindakan Pemerintah dan Masa Depan Tambang Gunung Kuda

Sebagai respons atas tragedi ini, Dinas ESDM Jawa Barat menghentikan sementara seluruh aktivitas pertambangan di Gunung Kuda sejak Jumat sore.

Gubernur Jawa Barat berencana untuk mencabut izin operasi tambang secara permanen. Hal ini dilakukan untuk mencegah terulangnya kejadian serupa dan melindungi nyawa manusia.

Penutupan permanen tambang Gunung Kuda menjadi langkah tegas yang diambil pemerintah. Keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama.

Tragedi longsor Gunung Kuda menjadi pengingat pentingnya pengawasan ketat dan penegakan hukum dalam industri pertambangan. Semoga kejadian ini menjadi pembelajaran berharga untuk mencegah terjadinya bencana serupa di masa depan. Prioritas keselamatan jiwa manusia harus selalu diutamakan di atas keuntungan ekonomi.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *