Presiden Joko Widodo kembali menghadapi pertanyaan mengenai keaslian ijazahnya. Tuduhan ini muncul setelah Dokter Tifauzia Tyassuma (Dokter Tifa) menyorot perbedaan format ijazah Jokowi dengan ijazah alumni Universitas Gadah Mada (UGM) lainnya. Perbedaan tersebut, menurut Dokter Tifa, terdapat pada jenis font dan gaya penulisan nama yang dinilai tidak sesuai dengan standar UGM pada era 1968 hingga 1995.
Perbedaan Format Ijazah yang Dipertanyakan
Dokter Tifa, seorang epidemiolog dan alumni UGM, menganggap penulisan nama “Joko Widodo” pada ijazah kurang rapi dibandingkan dengan tradisi penulisan nama lulusan UGM pada umumnya. Ia membandingkannya dengan ijazah milik temannya, Ir. Aida Greenbury, putri dari Prof. Dr. Ir. Achmad Sumitro. Terdapat perbedaan signifikan dalam penulisan nama dekan di kedua ijazah tersebut.
Perbedaan mencolok lainnya terletak pada penggunaan font Times New Roman. Beberapa pihak meragukan penggunaannya karena font tersebut baru populer setelah Windows 3.1 dirilis tahun 1992.
Klarifikasi dari Universitas Gadah Mada
Universitas Gadah Mada (UGM) dengan tegas menyatakan bahwa ijazah dan skripsi Presiden Jokowi asli. Dekan Fakultas Kehutanan UGM, Sigit Sunarta, menjelaskan bahwa pada tahun 1985, format ijazah di Fakultas Kehutanan memang menggunakan tulisan tangan dan belum ada standarisasi antar fakultas.
Rektor UGM, Prof. Ova Emilia, menambahkan bahwa belum adanya komputerisasi dan standar format dari Dikti pada masa itu menyebabkan perbedaan format ijazah antar alumni. Ia menekankan bahwa penggunaan font Times New Roman pun bukanlah hal yang mustahil, mengingat banyak mahasiswa yang mencetak dokumen di percetakan sekitar kampus yang mungkin sudah menggunakan font tersebut.
Analisis dan Kesimpulan
Perbedaan format ijazah Jokowi dengan ijazah alumni UGM lainnya memang terlihat, terutama dalam hal penggunaan font dan gaya penulisan. Namun, UGM telah memberikan klarifikasi yang cukup rinci mengenai hal tersebut. Kurangnya standarisasi dan keterbatasan teknologi pada tahun 1985 menjadi faktor utama perbedaan tersebut.
Penjelasan dari pihak UGM tentang penggunaan font Times New Roman di beberapa percetakan sekitar kampus juga memperkuat argumen mereka. Meskipun kontroversi ini tetap bergulir, klarifikasi resmi dari UGM harus dipertimbangkan sebagai informasi yang kredibel.
Kesimpulannya, perbedaan format ijazah semestinya tidak dijadikan landasan untuk meragukan keaslian ijazah Presiden Joko Widodo. Adanya perbedaan disebabkan oleh faktor historis dan belum adanya standarisasi pada masa tersebut. Penting untuk mengacu pada pernyataan resmi dari institusi yang berwenang, dalam hal ini UGM, untuk mendapatkan informasi yang akurat dan terpercaya. Mencari informasi dari berbagai sumber yang kredibel dan menghindari penyebaran informasi yang belum terverifikasi sangat penting untuk menjaga integritas informasi publik.





