Penggunaan gawai di kalangan anak-anak di pedesaan pun tak luput dari perhatian. Pengalaman penulis di Lombok menunjukkan anak-anak SD asyik bermain TikTok tanpa pengawasan orang tua.
Survei Neurosensum (2021) mengungkap anak di keluarga kurang mampu mulai menggunakan media sosial usia 7 tahun, lebih awal dibanding keluarga mampu (9 tahun).
Dampak Buruk Media Sosial bagi Anak: Brain Rot dan Ancaman Generasi
Akses mudah ke media sosial tanpa edukasi memicu kekhawatiran. Dampak negatifnya meliputi adiksi, defisit atensi, hingga brain rot.
Brain rot, atau pembusukan otak, merujuk pada penurunan fungsi kognitif akibat konten digital yang dangkal. Istilah ini resmi masuk Oxford English Dictionary akhir 2024.
Kondisi ini membuat anak kehilangan minat pada kegiatan intelektual, lebih memilih hiburan instan. Hal ini mengancam kualitas sumber daya manusia generasi mendatang.
Konten Dangkal dan Hambatan Akademik
Platform seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts menyediakan banyak konten berisiko memicu brain rot. Algoritma yang dirancang mempertahankan atensi pengguna memperparah masalah.
Video lipsync, prank tidak berfaedah, dan challenge yang tidak masuk akal adalah contoh konten yang merugikan. Konten ini menghambat perkembangan kognitif anak.
Jean Piaget (1952) menjelaskan perkembangan kognitif anak melalui tahap-tahap tertentu. Konten dangkal menghambat perkembangan berpikir logis dan abstrak pada anak.
Stimulus yang seharusnya mendorong perkembangan anak justru terisi konten remeh. Hal ini berdampak pada kemampuan belajar, kepercayaan diri, dan hubungan sosial anak.
Langkah Antisipasi: Regulasi dan Edukasi
Australia telah menerapkan regulasi ketat media sosial, membatasi akses anak di bawah 16 tahun. Langkah ini dipicu keprihatinan akan dampak negatif media sosial pada kesehatan mental anak.
Di Indonesia, Kominfo dan KPAI tengah mengkaji pembatasan usia akses media sosial. Tantangannya kompleks, mengingat jumlah pengguna media sosial yang besar dan minimnya verifikasi usia.
Pendekatan bertahap dan kontekstual lebih relevan ketimbang langsung mengadopsi kebijakan Australia. Regulasi formal (pemerintah) dan informal (keluarga, sekolah) perlu dipadukan.
Kolaborasi Sekolah, Guru, dan Orang Tua
Intervensi sektor informal, yaitu keluarga dan sekolah, sangat penting. Beberapa negara telah menerapkan program edukasi digital kolaboratif.
Singapura mengintegrasikan Cyber Wellness dalam kurikulum sekolah, melibatkan guru dan orang tua. Swedia memberikan mentoring kepada orang tua tentang berpikir kritis terhadap konten media sosial.
Sekolah berperan penting dalam edukasi digital. Program ini perlu melibatkan siswa, orang tua, guru, dan sekolah untuk mengajarkan literasi media, keamanan siber, dan penyaringan informasi.
Orang tua dan guru perlu memahami dampak negatif media sosial, cara mengurangi adiksi, dan memanfaatkan fitur parental control. Mereka juga perlu membimbing anak memilih konten edukatif.
Dengan kolaborasi yang baik, gawai dan media sosial dapat menjadi alat belajar yang aman dan produktif. Keselamatan anak di dunia digital adalah tanggung jawab bersama, demi menyelamatkan generasi mendatang.





