Kompol Reny Arafah, seorang polisi wanita (Polwan) di Kalimantan Tengah, mendapat pujian atas keberanian dan integritasnya dalam memberantas perjudian terselubung yang menyaru sebagai ritual adat Wara. Aksi tegasnya menolak suap dan memimpin penggerebekan, bahkan saat hamil besar, telah membuatnya diusulkan sebagai kandidat Hoegeng Awards 2025.
Kasus ini bermula dari praktik perjudian dadu gurak dan sabung ayam yang beroperasi di bawah kedok ritual adat Wara, sebuah upacara kematian dalam agama Kaharingan. Kejadian ini menarik perhatian banyak pihak, termasuk tokoh agama dan masyarakat setempat.
Pengungkapan Perjudian Terselubung di Ritual Adat Wara
Ritual Wara, sejatinya merupakan upacara sakral dalam agama Kaharingan yang bertujuan mengantar roh anggota keluarga yang meninggal dunia. Namun, oknum-oknum tertentu menyalahgunakan ritual ini untuk menyelenggarakan perjudian besar-besaran.
Permainan tradisional yang semula hanya sebagai bagian dari upacara, disusupi dengan judi sabung ayam dan dadu gurak. Praktik ini bahkan berlangsung hingga tiga kali lipat lebih lama dari durasi normal ritual Wara.
Ketua Perhimpunan Generasi Muda Kaharingan Barito Utara, Aryosi Jiono, menyatakan bahwa Kompol Reny berperan penting dalam memberantas praktik ini. Beliau merangkul tokoh adat dan agama untuk menegaskan bahwa perjudian bukanlah bagian dari ajaran Kaharingan.
Ketegasan Kompol Reny Menolak Suap dan Ancaman
Upaya Kompol Reny untuk menghentikan perjudian mendapat tantangan besar. Panitia ritual mengabaikan peringatannya, dan bahkan ada pihak yang mencoba menyuapnya agar menghentikan penindakan.
Namun, Kompol Reny tetap teguh pada pendiriannya. Beliau menolak berbagai tawaran suap yang jumlahnya mencapai puluhan juta rupiah per lapak judi. Sikap tegas ini mendapat apresiasi tinggi dari masyarakat.
Aryosi Jiono mengungkapkan bahwa Kompol Reny menghadapi ancaman dan tekanan dari para bandar judi. Meskipun demikian, beliau tidak goyah dan terus berupaya memberantas praktik ilegal tersebut.
Penggerebekan Saat Hamil Besar dan Dampak Penindakan
Puncaknya, Kompol Reny memimpin penggerebekan pada Agustus 2022, saat dirinya sedang hamil besar. Penggerebekan ini berlangsung menegangkan, dimana para pelaku bahkan sempat melakukan perlawanan.
Saksi mata, Anti, mengatakan bahwa Kompol Reny tidak pandang bulu dalam menindak para pelaku, bahkan jika mereka adalah tetangganya sendiri. Sikap tegas dan berintegritas ini sangat dihargai masyarakat.
Setelah penggerebekan, perjudian di ritual Wara berkurang drastis. Kompol Reny berhasil menjerat para bandar dan membawa kasus ini hingga ke pengadilan. Hal ini menunjukkan keberhasilannya dalam melindungi nilai-nilai budaya dan adat istiadat.
Kompol Reny sendiri mengungkapkan keprihatinannya atas praktik perjudian yang menodai adat Wara. Ia menegaskan bahwa adu ayam dalam ritual Wara sejatinya bukan untuk dijudikan, dan para bandar memanfaatkan celah ini untuk mengeruk keuntungan.
Modus operandi para bandar adalah menawarkan pendanaan ritual Wara kepada warga yang hendak melaksanakannya, dengan syarat dibukanya lapak judi di lokasi tersebut. Praktik ini telah menimbulkan berbagai masalah sosial, dari kekerasan dalam rumah tangga hingga pencurian.
Berkat tindakan tegas Kompol Reny, kini ritual Wara dapat kembali dijalankan sesuai dengan nilai-nilai luhurnya. Kisah keberanian dan integritasnya menjadi inspirasi bagi penegak hukum lainnya.
Keberanian dan integritas Kompol Reny Arafah dalam memberantas perjudian yang menyaru sebagai ritual adat Wara patut diapresiasi. Kisahnya mengingatkan kita akan pentingnya penegakan hukum yang adil dan berintegritas, serta pelestarian nilai-nilai budaya dan adat istiadat.





