Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menyoroti tingginya angka kekerasan terhadap perempuan di Indonesia. Ia menyebutnya sebagai masalah serius yang memerlukan penanganan segera.
Kekerasan terhadap Perempuan: Masalah Serius di Indonesia
Angka kekerasan terhadap perempuan di Indonesia masih mengkhawatirkan. Data SIMFONI PPA periode Januari-Maret 2025 menunjukkan 3.886 pengaduan dari total 4.518 laporan kekerasan, dengan perempuan sebagai korban dominan.
Data SIMFONI PPA dan Komnas Perempuan
Laporan SIMFONI PPA juga mencatat 31.947 kasus kekerasan sepanjang tahun 2024, dengan 27.658 kasus menimpa perempuan. Sementara itu, Catatan Tahunan (CATAHU) Komnas Perempuan 2024 mencatat 23 perempuan penyandang disabilitas intelektual menjadi korban kekerasan berbasis gender, termasuk kekerasan seksual.
Pentingnya Menghidupkan Nilai-nilai RA Kartini
Lestari Moerdijat menekankan pentingnya menghidupkan nilai-nilai perjuangan RA Kartini. Perjuangan Kartini untuk emansipasi perempuan dan melawan diskriminasi masih sangat relevan dalam konteks saat ini.
Emansipasi dan Kesetaraan Gender
Nilai-nilai perjuangan Kartini menjadi landasan penting dalam upaya pencegahan dan penanggulangan kekerasan terhadap perempuan. Hal ini memerlukan komitmen bersama untuk mewujudkan kesetaraan gender dan sistem perlindungan yang menyeluruh.
Pentingnya Political Will dan Upaya Pencegahan
Lestari mendorong peningkatan upaya pencegahan kekerasan terhadap perempuan. Ia berharap adanya political will yang kuat dari para pemangku kepentingan di pusat dan daerah untuk menerapkan kebijakan yang efektif.
Peran Semua Pihak
Dukungan dari semua pihak sangat penting dalam menanamkan nilai kesetaraan dan perlindungan bagi perempuan. Mewujudkan sistem perlindungan menyeluruh membutuhkan kepedulian dan kerja sama semua elemen masyarakat.
Perjuangan untuk melindungi perempuan dari kekerasan merupakan tanggung jawab bersama. Pentingnya kolaborasi antar lembaga pemerintah, organisasi masyarakat, dan individu untuk menciptakan lingkungan yang aman dan setara bagi seluruh warga negara, khususnya perempuan, harus terus digaungkan. Data yang terus meningkat menunjukkan perlunya strategi yang lebih komprehensif dan berkelanjutan dalam mengatasi masalah ini.





