Mantan pemain Oriental Circus Indonesia (OCI) baru-baru ini mengungkapkan keluhan mereka terkait ketidakadilan yang mereka alami selama menjadi bagian dari sirkus tersebut. Hal ini memicu tanggapan dari penasihat hukum pendiri OCI, Hamdan Zoelva.
Zoelva menghimbau para mantan pemain untuk jujur dan menghindari penyebaran informasi yang tidak benar. Ia menekankan pentingnya kebenaran dalam penyelesaian masalah ini, baik di pengadilan maupun di forum lainnya.
Bantahan dan Tawaran Kompensasi
Pihak pendiri OCI, menurut Hamdan Zoelva, selalu berupaya menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan dan humanis. Mereka telah menawarkan kompensasi sebesar Rp 150 juta kepada setiap mantan pemain.
Tawaran ini disampaikan melalui perwakilan pendiri OCI dalam pertemuan yang difasilitasi oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Namun, tawaran tersebut ditolak oleh para mantan pemain.
Zoelva menjelaskan bahwa angka kompensasi tersebut bukanlah hasil perhitungan matematis, melainkan bentuk perhatian dan rasa keluarga besar OCI terhadap para mantan pemainnya. Mereka dianggap berjasa terhadap kesuksesan OCI.
Lebih lanjut, pendiri OCI bahkan menawarkan fasilitasi pembentukan koperasi bagi mantan pemain dan akses untuk menjadi pemasok atau bermitra dengan Taman Safari, perusahaan yang masih berkaitan dengan pendiri OCI.
Kekhawatiran Terhadap Pihak Ketiga
Hamdan Zoelva mengungkapkan kekhawatirannya akan adanya pihak-pihak yang mencoba memanfaatkan situasi ini untuk keuntungan pribadi. Ia kembali meminta para mantan pemain untuk menyelesaikan masalah secara kekeluargaan.
Ia berharap agar para mantan pemain tidak terpengaruh oleh pihak luar yang mungkin ingin mengeksploitasi situasi tersebut. Prioritasnya adalah penyelesaian masalah secara damai dan berbasis keluarga besar OCI.
Latar Belakang Kasus dan Investigasi Komnas HAM
Kasus ini berawal dari laporan Fifi Nur Hidayah, mantan pemain OCI, kepada Komnas HAM. Laporan tersebut mencakup berbagai isu, termasuk asal-usul keluarga, dugaan penyiksaan, dan hak atas pendidikan yang tidak terpenuhi.
Hamdan Zoelva turut terlibat langsung dalam investigasi Komnas HAM. Ia menjelaskan bahwa investigasi difokuskan pada verifikasi asal-usul para pemain OCI dan kondisi mereka selama menjadi bagian dari sirkus tersebut.
Fifi, yang merupakan bagian keluarga OCI sejak kecil, kabur dari rumah pada tahun 1996. Setelah ditemukan di Semarang, ia melaporkan pengalamannya kepada Komnas HAM, yang saat itu diketuai oleh Pak Muladi.
Hamdan Zoelva berperan sebagai saksi dan turut serta dalam proses investigasi untuk mencari kebenaran. Ia menekankan pentingnya mencari fakta dan memberikan klarifikasi atas berbagai tuduhan yang ada.
Proses investigasi ini melibatkan pencarian dan wawancara langsung dengan para mantan pemain untuk menggali informasi dan latar belakang masing-masing individu. Hamdan menandatangani dokumen terkait proses ini sebagai bukti partisipasinya.
Kesimpulannya, kasus ini menyoroti kompleksitas hubungan antara mantan pemain dan pendiri OCI. Meskipun tawaran kompensasi telah diajukan, perbedaan persepsi dan kepercayaan masih perlu dijembatani. Peranan Komnas HAM dan transparansi dalam proses investigasi menjadi krusial untuk memastikan keadilan bagi semua pihak yang terlibat. Semoga solusi yang adil dan bermartabat dapat dicapai demi kebaikan semua pihak.





