Buruh di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, menggelar demonstrasi di depan Pos 9 pada Minggu (20/4/2025). Aksi ini merupakan buntut dari kemacetan parah yang disebabkan aktivitas bongkar muat peti kemas di pelabuhan beberapa hari sebelumnya.
Demo Buruh di Pelabuhan Tanjung Priok: Akibat Kemacetan Horor
Federasi Buruh Transportasi Pelabuhan Indonesia (FBTPI) menjadi penggagas aksi demonstrasi ini. Kemacetan selama 12 jam yang terjadi Kamis (17/4) lalu, berdampak luas hingga ke Tol Dalam Kota dan jalur arteri, menjadi pemicu utama.
Pengamanan Aksi Demo
Kepolisian mengerahkan 398 personel gabungan dari TNI, Brimob, Ditsamapta, dan Polres Pelabuhan Tanjung Priok untuk mengamankan demonstrasi. Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok, AKBP Martuasah H Tobing, memastikan seluruh personel tidak bersenjata api.
Senjata api telah dititipkan di gudang logistik dengan pengawasan ketat Sipropam. Pengawasan mengedepankan pendekatan humanis dan profesional, memberikan makanan dan minuman kepada para demonstran.
Koordinasi dan Manajemen Lalu Lintas
Polisi telah berkoordinasi dengan perwakilan demonstran untuk memastikan situasi tetap kondusif. Arus lalu lintas di sekitar Pos 9 Jalan Raya Pelabuhan Tanjung Priok diterapkan sistem buka tutup secara situasional.
Masyarakat diimbau mencari jalur alternatif untuk menghindari kemacetan di sekitar Pelabuhan Tanjung Priok dan Jalan Raya Cilincing. Hal ini penting untuk memastikan kelancaran lalu lintas di area tersebut.
Dampak Kemacetan dan Tuntutan Buruh
Kemacetan yang terjadi bukan hanya mengganggu aktivitas warga sekitar, tetapi juga berdampak pada perekonomian. Para sopir truk mengalami kerugian waktu dan biaya akibat kemacetan tersebut.
Demo ini diharapkan menjadi momentum bagi pihak terkait untuk mencari solusi permanen atas permasalahan kemacetan di Pelabuhan Tanjung Priok. Solusi ini penting untuk mencegah terulangnya kejadian serupa dan menjaga kelancaran arus logistik.
Aksi demonstrasi buruh ini menjadi sorotan atas perlunya manajemen yang lebih efektif dalam aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Priok. Kejadian ini diharapkan dapat mendorong perbaikan sistem dan infrastruktur pelabuhan demi menghindari kerugian ekonomi dan gangguan sosial di masa mendatang.





