Dehidrasi Haji Lansia: Tips Aman Terbang Jauh

Dehidrasi Haji Lansia: Tips Aman Terbang Jauh
Dehidrasi Haji Lansia: Tips Aman Terbang Jauh

Ibadah haji, puncak rukun Islam, menyimpan berbagai risiko kesehatan, terutama bagi jemaah lansia. Perjalanan panjang dan kondisi lingkungan yang berbeda di Arab Saudi menjadi tantangan tersendiri bagi kesehatan mereka. Salah satu risiko yang perlu diwaspadai adalah dehidrasi, yang dapat terjadi bahkan di dalam pesawat berpendingin ruangan.

Dokter Aulianto dari Pos Kesehatan Bandara di Jeddah menjelaskan bahwa banyak lansia enggan minum dan makan selama penerbangan. Keengganan ini dapat menyebabkan dehidrasi yang berpotensi membahayakan.

Bacaan Lainnya

Dehidrasi Selama Penerbangan: Ancaman bagi Jemaah Lansia

Faktor utama dehidrasi pada lansia selama penerbangan adalah kurangnya asupan cairan. Rasa takut untuk ke toilet atau perubahan menu makanan seringkali mengurangi nafsu makan dan minum mereka.

Oleh karena itu, peran pendamping dan petugas sangat penting untuk memastikan jemaah lansia tetap terhidrasi. Mereka harus secara aktif mengingatkan dan membujuk jemaah untuk makan dan minum secara teratur.

Tim dokter kloter juga harus melakukan pemantauan ketat terhadap kondisi jemaah lansia, terutama mereka yang memiliki penyakit bawaan. Pemantauan berkala, misalnya setiap tiga atau enam jam sekali, sangat disarankan.

Dehidrasi yang tidak ditangani dengan segera dapat berakibat fatal. Risiko ini meningkat jika jemaah memiliki penyakit penyerta seperti diabetes, karena mempercepat masuknya bakteri ke dalam tubuh.

Tips Pencegahan Dehidrasi dan Heat Stroke

Selain memastikan asupan cairan yang cukup, langkah pencegahan lain juga penting dilakukan. Salah satunya adalah membasahi kain ihram bagi jemaah laki-laki setelah tiba di Jeddah.

Membasahi kain ihram membantu mengurangi efek panas dan mencegah heat stroke. Petugas haji dapat membantu mengingatkan jemaah, terutama mereka yang tidak menggunakan jalur cepat Makkah Route.

Heat stroke merupakan kondisi serius yang ditandai dengan suhu tubuh tinggi dan dehidrasi. Dengan membasahi kain ihram, tubuh akan lebih terlindungi dari panas ekstrim di lingkungan sekitar.

Peran Istithoah dan Persiapan Kesehatan Jemaah Lansia

Kementerian Agama telah menerapkan kebijakan Istithoah untuk calon jemaah haji. Hal ini memastikan hanya jemaah yang sehat dan layak yang dapat berangkat haji.

Pemeriksaan kesehatan yang komprehensif sangat penting. Penanganan penyakit bawaan seperti diabetes atau gangguan pernapasan harus dilakukan secara rutin sebelum dan selama proses pemberangkatan.

Selain pengobatan, pelatihan fisik juga penting bagi jemaah lansia. Latihan jalan, misalnya, dapat meningkatkan daya tahan tubuh mereka menghadapi kelelahan fisik selama ibadah haji.

Kerjasama antara petugas kesehatan, puskesmas, dan KUA sangat penting dalam memberikan edukasi dan pemantauan kesehatan jemaah, khususnya lansia. Edukasi ini tidak hanya meliputi manasik haji, tetapi juga kesehatan fisik.

Hingga 19 Mei 2025, KKHI telah mencatat 7.957 kasus ISPA di kalangan jemaah haji Indonesia. Angka ini diprediksi akan meningkat dengan meningkatnya kepadatan jemaah dan suhu udara yang tinggi di Arab Saudi, yang telah mencapai 42-46 derajat Celcius.

Sekitar 80% jemaah haji Indonesia masuk dalam kategori berisiko tinggi, termasuk lansia dan mereka dengan penyakit penyerta. Kepadatan dan suhu tinggi meningkatkan risiko kelelahan, dehidrasi, dan memperburuk kondisi kesehatan jemaah.

Pencegahan dehidrasi dan heat stroke pada jemaah lansia merupakan prioritas utama. Dengan kesadaran, persiapan yang matang, dan kerja sama berbagai pihak, diharapkan dapat meminimalisir risiko kesehatan dan memastikan kelancaran ibadah haji.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *