Ribuan Lembar Upal Pecahan Rp 100 Ribu di Pemalang Digagalkan

Pengedar dan pencetak uang palsu dihadirkan dalam pers rilis di Polres Pemalang (Dok)

PEMALANG – Sebanyak 1.244 lembar uang palsu (Upal) pecahan Rp 100 ribu di Pemalang, Jateng, disita polisi dari penangkapan dua orang pengedar dan pencetak upal. Ada dua pelaku yang diamankan, yakni ES (57) warga Desa Cibatu, Kecamatan Karangnunggal, Tasikmalaya dan W (49) Warga Desa Kedokan, Kecamatan Gabus Wetan, Indramayu.

Selain menangkap kedua pelaku, polisi juga menyita seperangkat alat yang digunakan untuk mencetak uang palsu.
“Penangkapan kedua pelaku berawal dari adanya laporan warga masyarakat Moga, ada yang menjual uang rupiah palsu, langsung kita tindaklanjuti,” kata Kapolres Pemalang, AKBP Ari Wibowo dalam konferensi pers di kantornya, Pemalang, Kamis (25/11/2021).

Bacaan Lainnya

Dari laporan itu, polisi lalu menangkap ES (57) di Jalan Raya Moga, pada Rabu (17/11) lalu. Dari tangan ES polisi menyita 210 lembar upal pecahan Rp 100 ribu yang belum sempat diedarkan.

Tersangka ES yang sehari-harinya sebagai buruh tani ini mengaku jika uang palsu tersebut belum sempat tersebar di wilayah Kecamatan Moga.

“Rencananya akan dijual uang palsu dengan perbandingan 1 banding 3. Satu uang asli ditukar dengan 3 uang palsu,” kata ES.

Sementara itu, pencetak upal, W mengaku belajar dari YouTube. Dia mengaku baru mencoba-coba untuk mencetak upal ini, sehingga berlatih selama kurang lebih tiga bulan

“Belajar dari YouTube. Eksperimen tiga bulan. Saya cetak 1 rim, dan belum berhasil beredar sudah diamankan,” kata S.

Atas perbuatannya, tersangka W dikenakan Pasal 36 Jo Pasal 26 UU RI No. 7 Tahun 2011 tentang mata uang, dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara. Sedangkan ES, dijerat dengan pasal 36 Ayat 2 Jo Pasal 26 Ayat 2 UU RI No. 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang, dengan ancaman hukuman maksimal 10 tahun.

Sementara itu, Asisten Direktur di Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Tegal, Dody Nugraha, yang dihadirkan sebagai saksi ahli, meminta masyarakat waspada dengan peredaran upal. Terlebih menjelang libur Natal dan Tahun Baru 2022.

“Kasus temuan uang palsu jelang Natal dan Tahun Baru cenderung meningkat. Pelaku peredaran uang palsu (Upal) bisa saja memanfaatkan momen natal dan tahun baru untuk mencari korban. Ini yang harus diwaspadai masyarakat,” kata Dody.

Lebih lanjut Dody mengatakan, apabila ada kecurigaan terhadap uang yang diterima, bisa dilakukan melalui 3D, atau dilihat, diraba, dan diterawang

Dia menyebut, dari catatan BI Kabupaten Tegal, selama kurun waktu 2019-2020, peredaran upal meningkat sebesar 27 persen dari sebelumnya 5,246 Bilyet menjadi 7,024 Bilyet. Untuk diketahui KPw BI Cabang Tegal membawahi 7 kabupaten/kota eks karesidenan Pekalongan.

Kemudian pada 2021 tercatat ada 88 bilyet atau menurun 87 persen dari tahun sebelumnya. Hal ini dikarenakan kebijakan Pemerintah atas Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di masyarakat. Masyarakat cenderung melakukan transaksi secara Non-Tunai dalam kegiatan sehari-hari. (trs)

Pos terkait