Perilaku Prokratinasi Siswa Selama Pembelajaran Jarak Jauh Di Masa Pandemi Covid-19

Sebagaimana disebutkan di dalam UU No 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa “pendidikan merupakan usaha sadar untuk mempersiapkan peserta didik melalui aktivitas atau kegiatan yang berupa pengajaran, bimbingan, ataupun latihan yang berguna untuk masa depan”. Apabila mengacu pada UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan nasional memiliki tujuan untuk melahirkan/menciptakan manusia yang bertakwa serta beriman kepada Tuhan YME, sehat, berperasaan, memiliki akhlak mulia, cerdas, mampu berkarya, berkemauan, mampu memenuhi segala kebutuhannya dengan wajar, mampu bermasyarakat, mampu berbudaya, mampu mengontrol hawa nafsunya, serta memiliki kepribadian.

Pendidikan merupakan salah satu indeks pembangunan dan elemen pengukur maju tidaknya sebuah negara (Umam, 2020). Tanpa pendidikan, suatu negara akan jauh tertinggal dari negara lain. Bahkan ada peribahasa “Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat” dan peribahasa “Tuntut lah ilmu walau harus ke negeri Cina”. Dari Pribahasa diatas, seharusnya kita sadar mengenai pentingnya pendidikan. Pendidikan saat ini sudah menjadi kebutuhan utama tiap manusia. Terlebih negara kita sangatlah luas dan memiliki banyak sumber daya manusia.

Bacaan Lainnya

Akan tetapi, kondisi pendidikan Indonesia nampaknya mengalami carut marut setelah World Healt Organizer (WHO) menetapkan status darurat internasional akibat virus Corona atau Covid-19 (Nugroho dkk, 2020). Melihat situasi yang cukup kritis akibat pandemi Virus Corona atau Covid-19, Pemerintah Indonesia pun tidak tinggal diam dan merespon hal tersebut dengan mengeluarkan berbagai kebijakan, salah satunya kebijakan “pembelajaran dari rumah” bagi para peserta didik di seluruh tingkatan pendidikan yang didukung oleh teknologi jaringan (seperti internet) dan teknologi informasi (smartphone, laptop, komputer, dan sejenisnya).  Hal ini dilakukan demi memutus rantai penyebaran virus dan menjaga keamanan serta keselamatan peserta didik dan tenaga pendidik.

Dengan demikian, lembaga pendidikan (SD, SMP maupun SMA) yang sebelumnya melakukan pembelajaran tatap muka di sekolah masing-masing, kini harus mengadaptasi model pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi jaringan dan teknologi informasi. Kebijakan pembelajaran dari rumah dengan penggunaan teknologi jaringan dan teknologi informasi ini sering disebut dengan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Menurut Mustofa dkk (2019), pembelajaran jarak jauh adalah metode pembelajaran yang dilakukan melalui jaringan internet. Jadi, peserta didik tidak perlu datang ke sekolah atau ke kampus untuk mendapatkan materi dari guru atau dosen, melainkan cukup berkomunikasi atau saling berinteraksi secara online melalui internet untuk mendapatkan materi dan informasi yang dibutuhkan untuk membentuk basis pengetahuannya.

Dalam pembelajaran online atau pembelajaran jarak jauh, media pembelajaran yang biasa digunakan yaitu zoom, google classroom, google meet dan sebagainya. Perkembangan teknologi tersebut membuat pembelajaran jarak jauh menjadi mudah dilakukan. Dengan adanya zoom, google classroom, google meet dan sebagainya,  peserta didik tidak perlu datang ke sekolah untuk mendapatkan materi dan mengakses tugas dari guru, melainkan cukup berkomunikasi atau saling berinteraksi secara online.

Akan tetapi, dalam proses pembelajaran jarak jauh kerap ditemui banyak persoalan, salah satunya munculnya perilaku prokratinasi akademik. Menurut Munawaroh dkk (2017), prokrastinasi dalam bidang akademik adalah kecenderungan untuk menunda dan atau menghindari menyelesaikan aktivitas atau kegiatan akademik, seperti penundaan terhadap tugas-tugas akademik seperti mengerjakan PR, penundaan dalam mempersiapkan ujian, penundaan kehadiran dalam kelas, dan penundaan terhadap penyelesaian tugas akademik lainnya. Sebenarnya, perilaku prokrastinasi sendiri bukan baru dalam dunia pendidikan. Bahkan sebelum Indonesia dilanda pandemi Covid-19 permasalahan ini sudah banyak ditemui dalam proses pendidikan, dan semakin menjadi kendala disaat pembelajaran dilaksanakan secara online (jarak jauh).

Prokratinasi akademik muncul karena beberapa faktor, diantaranya gangguan koneksi internet, kehabisan kuota internet, effort dalam mengerjakan pekerjaan sekolah tidak maksimal, peserta didik belum terbiasa dengan pembelajaran jarak jauh yang terkadang membuat peserta didik kurang memahami materi yang disampaikan oleh guru, bosan sebab kurangnya interaksi yang intens sebagaimana pertemuan tatap muka, banyaknya tugas yang diberikan guru, dan disebabkan pula karena motivasi belajar siswa yang rendah. Faktor-faktor tersebut kemudian membuat siswa memilih beralih ke game online dan media sosial (tiktok, facebook, instagram, twitter, youtube, dan lainnya) saat jam pembelajaran jarak jauh berlangsung. Akibatnya siswa cenderung menunda dan atau menghindari menyelesaikan tugas-tugasnya. Tugas-tugas yang diberikan guru pun menjadi menumpuk dan siswa merasa semakin terbebani dengan tugas-tugas tersebut.

Jika tidak segera diatasi, prokratinasi akademik dapat menyebabkan penurunan prestasi akademik. Hal ini sebagaimana diungkapkan Dinarsih (2018) dalam penelitiannya yang berjudul “Pengaruh Prokratinasi Akademik terhadap Prestasi Siswa di Sekolah Dasar” bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara penundaan akademik terhadap prestasi peserta didik. Semakin tinggi kebiasaan prokratinasi akademik, maka semakin rendah prestasi akademiknya. Untuk mengatasi perilaku prokratinasi, sebenarnya bisa dilakukan oleh siswa itu sendiri. Langkah pertama yang harus dilakukan siswa untuk mengatasi perilaku prokratinasi di dalam dirinya adalah dengan menumbuhkan motivasi dalam dirinya sehingga siswa menjadi lebih bersemangat dalam mengikuti pembelajaran jarak jauh dan membuat siswa tidak terpengaruh oleh game online dan media sosial ketika sedang mengikuti pembelajaran jarak jauh.

Langkah kedua adalah siswa harus membuat skala prioritas untuk tugas-tugasnya. Maksudnya adalah memilih tugas-tugas mana yang harus dikerjakan terlebih dahulu berdasarkan kepentingan dan prioritasnya. Apabila siswa mempunyai beberapa tugas yang harus dikerjakan dalam waktu bersamaan, maka siswa bisa memilih tugas yang terberat dahulu untuk dikerjakan. Sebab apabila tugas yang terberat itu selesai maka ketika mengerjakan tugas yang lainnya siswa merasa mudah dalam pengerjaannya. (TIM)

Penulis : SONY, AKBAR, FIRMAN, ANDRE, RAMADHAN

Sumber :

Dinarsih. (2018). Pengaruh Prokratinasi Akademik terhadap Prestasi Siswa di Sekolah Dasar. Jurnal Ilmiah Pendidikan Ke SD-an. 1-10.

Munawaroh, M. L., Alhadi, S., & Saputra, W. E. (2017). Tingkat Prokrastinasi Akademik Siswa Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah 9 Yogyakarta. Jurnal Kajian Bimbingan dan Konseling, 26-31

Nugroho, W. D., Indah, W. C., Alanish, S. T., Istiqomah, N., Cahyasari, I., Indrastuti, M., . . . Isworo, A. (2020). Literatur Review: Transmisi Covid-19 dari Manusia ke Manusia. Jurnal of Bionursing, 101-112.

Umam, M. K. (2020). Dinamisasi Manajemen Mutu Perspektif Pendidikan Islam. Jurnal Al-Hikmah, 61-74

 

 

Pos terkait