Berawal Kredit di Bank, Sertifikat Jaminan Beralih Nama Orang Lain

Kondisi pasutri Haryanto-Sumami yang kini tinggal di sebuah gudang (M.Miftahudin/NEWSCAKRA)

PURWOREJO – Nasib sial dan memilukan dialami pasutri Haryanto dan Sumami, warga Jurangkah Dadirejo, Kecamatan Bagelen, Purworejo. Dalam tiga tahun terakhir ini mereka mengalami hidup yang memprihatinkan.

Karena semenjak mereka di usir dari rumah tempat tinggalnya di jalan raya Purworejo – Wates sekitar bulan Februari 2019 yang sebelumnya dilaporkan ke Polsek Bagelen Purworejo oleh seorang yang mengaku memiliki sertifikat atau SHM tanah dan bangunan yang mereka tempati.
Sehingga mereka pun disuruh pindah dari tempat tinggalnya, dan akhirnya menempati gudang tempat usahanya yang berada di seberang jalan.

Bacaan Lainnya

Semenjak itu pula Haryanto dan Sumami tidak lagi mempunyai usaha dan kehidupanya juga sangat memprihatinkan. Tetapi keduanya tidak patah semangat , mereka selalu memperjuangkan hak miliknya , karena tanah dan bangunan tersebut adalah hasil jerih payahnya dalam usahanya yaitu jual beli kayu.

Karena dalam kondisi yang bingung dan tidak tahu harus bagaimana ada seseorang yang memperkenalkan pengacara yang katanya akan membantu menyelesaikan permasalahannya. Namun nasib kurang beruntung sudah dua kali ganti pengacara Haryanto tetap belum bisa mendapatkan hak miliknya alias gagal.

Dan suatu hari pak Hariyanto mendapat informasi ada lembaga yang yang mau membantunya. Benar akhirnya Haryanto di pertemukan dengan lembaga perlindungan konsumen LPKSM Kresna. Setelah ada diskusi serta berkeluh kesah apa yang dialami , Haryanto lalu menguasakan kepada lembaga tersebut untuk membantu menyelesaikan permasalahannya.

Dari penelusuran LPKSM Kresna kuat dugaan beralihnya surat hak milik atau SHM atas nama Sumami istri Haryanto menjadi atas nama orang lain diduga penuh sarat rekayasa dan manipulasi.

Karena awalnya adalah hutang piutang akad kredit pada bank BPD DIY cabang Galur Wates Jogjakarta pada tahun 2013. dengan akad kredit sebesar 170 juta rupiah dalam jangka waktu atau tenor 48 bulan.
Sehubungan usahanya mengalami pailit angsuran kredit Haryanto pada Bank BPD yg mengalami kemacetan

Tanpa sepengetahuan Haryanto pada tahun 2017 ada seseorang yang memanfaatkan anaknya yang bernama Jumanto untuk mengajak ibunya istri Haryanto yang bernama Sumami mendatangi Bank BPD DIY cabang Wates katanya mau mengambil sertifikat atau SHM karena sudah ada yang melunasi hutang bapaknya.

Akan tetapi Sumami tidak menerima sertifikat atau SHM yang dijaminkan pada Bank BPD DIY cabang Wates.
Di sinilah awal dari beralihnya sertifikat SHM yang dijaminkan Haryanto. Sampai berpindah tangan atas nama orang lain.

Keterangan yang didapat dari pihak bank BPD DIY cabang Wates melalui perwakilannya yaitu bapak Sugeng bahwa pengambilan jaminan sertifikat atas nama Sumami secara administrasi sudah sesuai dengan prosedur meski tanpa sepengetahuan ataupun hadirnya nasabah sebagai atas nama akad kredit. Inilah yang menjadi indikasi dugaan rekayasa yang dilakukan oleh oknum pegawai Bank BPD DIY Cabang Wates.

Hingga saat ini permasalahan belum selesai dan dan masih dalam proses secara hukum, karena kasus ini sudah dilaporkan ke Polda DIY dan polres Purworejo. (Mif)

 

Pos terkait