Angka Stunting Tinggi, Sukamto Bersama BKKBN DIY Gelar Sosialisasi Program Bangga Kencana

Acara program Bangga Kencana yang dihadiri anggota Komisi X DPR RI H. Sukamto bersama BKKBN DIY (Mbah Pri/NEWSCAKRA)

GUNUNGKIDUL –  Anggota DPR RI dari komisi IX, H. Sukamto, SH. bekerjasama dengan BKKBN DIY mengadakan sosialisasi dan KIE program bangga kencana bersama mitra kerja DI, Yogyakarta bertempat di balai Kalurahan Selang Kapanewon Wonosari, Jumat (15/4/2022).

Turut hadir dalam acara tersebut anggota DPR RI komisi IX, H. Sukamto, SH, Inspektur Utama BKKBN, Inspektur Wilayah II, Kepala Perwakilan BKKBN DI, Yogyakarta, Wakil Bupati Gunungkidul yang di wakili Staf Ahli Bupati, Forum Komunikasi Pimpinan Kapanewon, Lurah dan tamu undangan yang tetap mematuhi prokes.

Bacaan Lainnya

Inspektur Utama BKKBN Ari Dwikora Tono, AK, M.EC. Dev. mengatakan, masyarakat harus paham dulu apa stunting, stunting adalah kekurangan gizi pada balita yang berlangsung lama pada masa 1000 hari pertama kehidupan ( sejak kehamilan hingga bayi berumur 2 tahun ) dan menyebabkan terhambatnya perkembangan otak dan tumbuh kembang anak, karena mengalami kekurangan gizi menahun, balita stunting tumbuh lebih pendek dari standar tinggi balita umumnya.

” Di Negara kita ini tinggi angka stuntingnya, yaitu 24,4% menurut surve status gizi Idonesia ( SSGI ), untuk itu pada tahun 2024 nanti angka stunting di harapkan turun diangka 14% ,” tandasnya.

Menurut WHO ketika negara stuntingnya diatas 20% maka ada masalah disitu, pencegahan stunting ini tidak bisa hanya Pemerintah yang melakukan, tetapi semua lini, baik Pemerintah, BUMN, swasta, perguruan tinggi dan masyarakat itu sendiri.

“Melalui PERPRES No 72 Tahun 2021,Presiden menunjuk BKKBN sebagai koordinator dalam masalah ini, kemudian kita buat RAN ( Rencana Aksi Nasional ), PASTI ( Penurunan Stunting Nasional Indonesia ), disitu ada 3 tim yang mendampingi setiap Desa, terdiri dari bidan, kader KB dan kader PKK, terutama kita tekan pencegahan itu di remaja, sebelum 3 bulan menikah harus sudah mendaftar dulu biar di periksa kecukupan usia, usia menentukan kecukupan reproduksinya,” pungkas Ari.

Sementara itu anggota komisi IX DPR RI H. Sukamto, SH menyampaikan ” Suatu Negara angka stuntingnya tinggi susah untuk maju, di Daerah Istimewa Yogyakarta ini cukup tinggi angka stuntingnya, walaupun di bawah rata-rata Nasional, apakah stunting itu bisa di hilangkan, itu tidak mungkin, pasti akan ada stunting, kita berusaha menekan stunting itu,” tegas H. Sukamto, SH.

Stunting bisa mengakibatkan beberapa hal, diantaranya terganggunya perkembangan otak dan fisik balita, sehingga cenderung membuat balita sulit mencapai prestasinya kelak, lebih rentanya balita terhadap penyakit,saat dewasa lebih mudah mengalami penyakit jantung,diabetes dan lainya.

Kekurangan gizi dapat terjadi karena, pola asuh yang kurang tepat dalam pemberian makan balita baik jumlah dan jenisnya sehingga asupan gizi yang diterima menjadi kurang terpenuhi, lingkungan yang tidak bersih menyebabkan balita terpapar kuman atau bakteri, infeksi bakteri ini mengakibatkan asupan gizi untuk pertumbuhan balita terpaksa digunakan tubuh untuk melawan infeksi bakteri, bakteri bersumber dari lingkungan misalnya karena buang air besar sembarangan.

Mengkonsumsi makanan dengan gizi seimbang : karbohidrat, lemak, vitamin, mineral, dan protein hewani ( ATIKA : ati, telur, dan ikan ).  (Mbah Pri)

Pos terkait